Poin Penting
- Antam membukukan laba bersih Rp7,9 triliun pada 2025, melonjak 106 persen yoy berkat kinerja operasional yang kuat di seluruh lini bisnis
- Lonjakan produksi dan penjualan nikel serta bauksit, ditopang tingginya permintaan emas domestik, mengerek laba bersih Antam menjadi Rp7,9 triliun pada 2025
- Harga emas yang kuat, pertumbuhan volume penjualan komoditas, dan efisiensi biaya mendorong laba bersih Antam melesat 106 persen menjadi Rp7,9 triliun sepanjang 2025.
Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) membukukan loncatan laba bersih yang signifikan di sepanjang tahun 2025. Perseroan berhasil mencatat laba bersih Rp7,9 triliun, naik 106% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Antam, Handi Sutanto membeberkan, pencapaian kinerja tersebut ditopang oleh pelbagai faktor strategis, baik dari sisi operasional, komersial, serta kondisi pasar yang kondusif.
“Pertumbuhan laba bersih Antam di tahun 2025 memang tumbuh sangat signifikan. Itu didorong oleh kinerja operasional kami yang kuat tentunya di seluruh lini bisnis perseroan,” ujar Handi, dalam RUPST Antam 2025, Rabu (10/6).
Ia menjelaskan, pada segmen nikel misalnya, Antam berhasil mencatatkan lonjakan produksi sebesar 62 persen yoy. Sementara, volume penjualan bijih nikel melesat hingga 75 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: RUPST Metrodata Electronics (MTDL) Sepakati Dividen Rp331,48 Miliar, Setara Rp27 per Saham
Menurutnya, peningkatan tersebut turut ditopang oleh optimalisasi kegiatan pertambangan dan pemanfaatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang diraih perseroan.
“Kami mendapatkan momentum dan memanfaatkan momentum tersebut sebaik mungkin. Didorong juga dengan tentunya dengan tingginya permintaan bahan baku hilirisasi dalam negeri atau yang untuk stainless steel,” jelasnya.
Tak hanya Nikel, kinerja segmen bauksit juga mencatatkan pertumbuhan yang solid sepanjang 2025. Antam membukukan kenaikan produksi bauksit sebesar 112 persen yoy, sementara penjualan tumbuh hingga 157 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ia bilang, keberhasilan tersebut juga ditopang oleh pemanfaatan RKAB yang diperoleh tepat waktu sehingga perusahaan bisa mengoptimalkan aktivitas produksi dan penjualan.
“Kami bisa manfaatkan momentumnya, kami optimalisasikan RKAB tersebut sehingga itu menciptakan kinerja perusahaan yang sangat baik,” jelasnya.
Permintaan Emas Domestik Tinggi
Lebih lanjut, selain nikel dan bauksit, Handi menyebut bahwa bisnis emas masih menjadi salah satu tulang punggung terhadap pertumbuhan kinerja Antam pada 2025.
Tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi emas di tengah ketidakpastian ekonomi ikut mendorong mendorong lonjakan permintaan emas domestik. Sepanjang 2025, volume penjualan emas mencapai sekitar 37 ton.
Baca juga: Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, Setara 70 Persen Laba 2025
Selain daripada top line di pendapatan, Antam juga secara konsisten menjalankan program efisiensi operasional guna meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Menurut Handi, harga komoditas merupakan faktor eksternal yang tak bisa dikendalikan perusahaan. Namun, pengelolaan biaya operasional menjadi aspek yang terus dioptimalkan.
“Antam juga konsisten tentunya menjalankan program efisiensi karena harga itu tidak bisa kami kontrol tapi cost bisa kami kontrol. Nah itu yang kami efisiensikan sehingga juga mampu meningkatkan overall profitability daripada perseroan,” bebernya.
Ia menegaskan, lonjakan laba bersih hingga 106 persen pada 2025 merupakan hasil dari kombinasi tiga faktor utama. Antara lain, pertumbuhan volume produksi dan penjualan signifikan di segmen nikel dan bauksit.
Lalu, dukungan harga komoditas yang tetap kuat, terutama emas. Dan tak ketinggalan, disiplin perusahaan dalam menjalankan program efisiensi biaya di seluruh lini operasional. (*)
Editor: Galih Pratama


