Poin Penting
- Kredit UMKM tumbuh sekitar 1 persen pada Juni 2026 setelah mengalami kontraksi dalam beberapa bulan sebelumnya.
- BI menyebut akses pembiayaan, literasi keuangan, dan adopsi teknologi masih menjadi tantangan bagi UMKM.
- Dari sekitar 64 juta UMKM, hanya sekitar 15 persen yang mampu menembus pasar ekspor.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hanya sekitar 1 persen pada Juni 2026. Pertumbuhan tersebut membaik setelah kredit UMKM mengalami kontraksi dalam beberapa bulan sebelumnya.
Di sisi lain, kredit secara keseluruhan mencatat pertumbuhan positif sebesar 12,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, pertumbuhan kredit UMKM yang masih terbatas menjadi pekerjaan rumah bersama pemerintah, regulator, industri jasa keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, perluasan akses pembiayaan penting dulakukan agar pelaku UMKM dapat mengembangkan usahanya.
“Juni (2026) kredit tumbuh 12,6 persen, tapi UMKM ini tumbuhnya sangat kecil. Jadi kredit ke sektor UMKM hanya tumbuh sekitar 1 persen-an. Itu lebih bagus, sebelumnya negatif terus di year-on-year. Ini menjadi PR kita semua bagaimana kita membantu UMKM supaya mereka juga punya akses pembiayaan,” ujar Destry di Economic Briefing 2026, Jumat, 26 Juli 2026.
Baca juga: Kredit UMKM Masih Rendah, Ekonom Ungkap Strategi Agar Penyaluran Melesat
Selain akses pembiayaan, Destry menyoroti rendahnya literasi keuangan yang membuat sebagian pelaku UMKM masih mengandalkan pembiayaan informal. Skema tersebut umumnya memiliki biaya yang lebih tinggi.
“Kalau sekarang akses keuangannya terbatas, banyak juga di sektor yang informal, dimana itu costly, mahal. Nah ini menjadi PR kita bagaimana bersama-sama capacity building untuk para UMKM,” tambahnya.
Adopsi Digital dan Akses Pasar Jadi Tantangan
Tantangan lain yang dihadapi UMKM adalah rendahnya adopsi teknologi digital. Meski sebagian UMKM, khususnya dari kalangan generasi muda, telah menggunakan layanan pembayaran digital seperti QRIS, masih banyak pelaku usaha yang belum memiliki literasi memadai untuk memanfaatkannya.
Baca juga: Kredit UMKM Tertekan, OJK Perkuat Skema Pembiayaan Inklusif
Destry juga menyampaikan bahwa keterbatasan pasar menjadi tantangan bagi UMKM. Sebagian pelaku usaha masih kesulitan memperluas pasar domestik, sementara kemampuan untuk menembus pasar ekspor juga relatif rendah.
“Jadi kalau ekspor, saat ini dari jumlah UMKM yang tadi saya bilang 64 juta, paling yang ekspor cuma 15 persen,” bebernya. (*)
Editor: Yulian Saputra


