Poin Penting
- OJK mencatat undisbursed loan atau kredit nganggur perbankan mencapai Rp2.527,46 triliun pada Maret 2026, naik 7,35 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp2.354,50 triliun
- Meski nominal kredit belum dicairkan meningkat, rasio terhadap total kredit turun dari 29,77 persen menjadi 29,19 persen, menandakan ruang pembiayaan perbankan masih cukup besar
- OJK optimistis undisbursed loan akan menurun seiring strategi bisnis bank dan prospek ekonomi yang membaik, didukung likuiditas memadai serta tren penurunan suku bunga kredit.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat posisi undisbursed loan alias kredit yang belum dicairkan di perbankan pada Maret 2026 tercatat Rp2.527,46 triliun atau meningkat 7,35 persen secara tahunan dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp2.354,50 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, meski secara nominal meningkat, persentase undisbursed loan terhadap total kredit menurun dari 29,77 persen menjadi 29,19 persen.
“Hal ini menunjukkan perbankan nasional masih memiliki ruang yang cukup untuk mendukung pembiayaan produktif dan mendorong pertumbuhan sektor riil,” kata Dian dalam keterangan resmi, Jumat, 8 Mei 2026.
Baca juga: OJK Nilai Tren Penurunan Suku Bunga Kredit Bank Berlanjut
Menurut Dian, undisbursed loan ke depan akan mengalami penurunan seiring penyesuaian strategi bisnis perbankan dan meningkatnya optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional.
Dia juga optimis industri perbankan nasional tetap memiliki resiliensi yang kuat dalam menghadapi dinamika global maupun domestik.
“Dengan likuiditas yang memadai, tren penurunan suku bunga kredit, serta sinergi kebijakan antara pemerintah, regulator, dan industri jasa keuangan, perbankan diharapkan dapat terus memperkuat fungsi intermediasi secara sehat, prudent, dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Dian.
Sementara realisasi kredit perbankan pada Maret 2026, tercatat tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp8.659 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen.
Baca juga: Yurisprudensi Vonis Bebas Kasus Pidana Kredit Macet Sritex: Cukup Sampai di Sini
Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi motor utama dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,85 persen. Sementara itu, berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi, yakni 14,88 persen.
Di sisi lain, kredit UMKM mulai menunjukkan pemulihan dengan tumbuh tipis 0,12 persen, setelah sebelumnya terkontraksi 0,56 persen pada Februari 2026.
Sementara berdasarkan kepemilikan, bank BUMN mencatatkan pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 13,66 persen.
Editor: Galih Pratama


