Poin Penting
- BI menilai ruang penyaluran kredit masih besar, tercermin dari undisbursed loan yang masih di atas 20 persen dari total plafon
- Peluang kredit terutama terbuka di sektor produktif seperti pertanian, jasa usaha, konstruksi, dan transportasi tanpa memicu inflasi
- Meski kredit tumbuh 9,49 persen (Maret 2026), penyaluran masih didominasi Himbara, sehingga BI mendorong BUSN dan bank asing lebih ekspansif.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) menilai masih banyak ruang bagi perbankan untuk menyalurkan kredit. Pasalnya, undisbursed loan atau kredit yang belum dicairkan masih di atas 20 persen terhadap total plafon.
“Kalau kita lihat siklus keuangan kit aini masih di bawah dari pergerakan perekonomian makro kita. Jadi artinya ruang untuk tumbuh itu masih besar tanpa menyebabkan kenaikan inflasi,” kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior dalam Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin, 27 April 2026.
Baca juga: Survei BI: Penyaluran Kredit Triwulan I 2026 Terindikasi Melambat
Destry menjelaskan, peluang penyaluran kredit di sektor produktif masih tinggi. Sektor tersebut di antaranya, pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, serta pengangkutan.
“Kita masih lihat cukup tinggi karena masih di atas 20 persen undisbursed loan terhadap plafon kreditnya,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama, baik bagi perbankan maupun regulator. Meski demikian, kredit masih tumbuh 9,49 persen di Maret 2026, namun mayoritas masih didominasi oleh bank himpunan milik negara (Himbara).
Baca juga: Bos BI: Kredit Nganggur Bank Masih Tinggi, Tembus Rp2.439,2 Triliun
BI pun mengimbau agar seluruh perbankan, baik bank umum swasta nasional (BUSN) dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) untuk lebih ekspansif dalam menyaluran kredit ke sektor-sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi. (*)
Editor: Galih Pratama








