Poin Penting
- Kredit modal kerja BWS mencapai Rp20,90 triliun, atau 51,8 persen dari total kredit Rp40,34 triliun
- Laba bersih BWS melonjak menjadi Rp594,09 miliar pada semester I-2026
- BWS perlu menjaga kualitas debitur, pricing, dan risiko di tengah ekspansi kredit.
Jakarta — PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS) mencatatkan kredit modal kerja sebagai porsi terbesar dalam portofolio pembiayaan perseroan hingga semester I-2026. Per Juni 2026, kredit modal kerja BWS mencapai Rp20,90 triliun atau lebih dari separuh total kredit yang telah disalurkan oleh perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan BWS, kredit modal kerja tersebut terdiri atas pembiayaan dalam rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS). Kredit modal kerja kepada pihak berelasi tercatat Rp75,27 miliar, sementara kepada pihak ketiga dalam rupiah mencapai Rp10,61 triliun dan dalam dolar AS sekitar Rp10,21 triliun. Secara keseluruhan, nilainya mencapai hingga Rp20,90 triliun.
Pada periode yang sama, total kredit BWS tercatat sebesar Rp40,34 triliun. Dengan demikian, kredit modal kerja menyumbang sekitar 51,8 persen dari keseluruhan portofolio kredit perseroan.
Besarnya porsi tersebut mencerminkan bahwa posisi kredit modal kerja merupakan sebagai salah satu penopang utama aktivitas intermediasi BWS.
Baca juga: Kim Eungchul Mundur dari Jabatan Presiden Direktur Bank Woori Saudara, Ada Apa?
Pembiayaan jenis ini umumnya digunakan nasabah untuk memenuhi kebutuhan operasional usaha, termasuk kebutuhan kas, pembelian bahan baku, hingga pembiayaan piutang dan aktivitas bisnis sehari-hari.
Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi menilai karakter kredit modal kerja yang memiliki siklus relatif lebih pendek dibandingkan dengan kredit investasi memberikan ruang bagi perbankan untuk lebih aktif mengelola portofolio pembiayaan sesuai dengan perkembangan kondisi usaha nasabah.
“Porsi kredit modal kerja yang besar dapat menjadi sumber pendapatan bunga yang relatif berulang karena kebutuhan pembiayaan operasional perusahaan terus berputar. Bagi bank, tenor yang relatif lebih pendek juga memberikan fleksibilitas untuk melakukan repricing maupun menyesuaikan ekspansi kredit dengan kondisi likuiditas dan risiko,” ujar Leo dalam keterangannya, Kamis (27/9).
Kinerja intermediasi tersebut berjalan di tengah perbaikan profitabilitas BWS. Sepanjang enam bulan pertama 2026, perseroan membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp789,78 miliar. Pada periode yang sama, laba bersih BWS mencapai Rp594,09 miliar, meningkat dibandingkan yang dicatatkan pada semester I-2025 yaitu sebesar Rp82,67 miliar.
Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah BWS tercatat Rp29,46 triliun per akhir Juni 2026. Struktur pendanaan tersebut terdiri atas simpanan pihak berelasi sebesar Rp13,84 miliar dan pihak ketiga sebesar Rp29,44 triliun.
Baca juga: Jaga Kualitas Aset, Bank Woori Saudara Perkuat Manajemen Risiko Kredit
Menurut Leo, ke depan kualitas pertumbuhan kredit akan menjadi faktor penting selain besarnya penyaluran pembiayaan.
“Yang perlu dijaga bukan hanya pertumbuhan volume, tetapi juga kualitas debitur dan pricing kredit. Jika ekspansi kredit modal kerja dapat dibarengi pengelolaan risiko dan biaya dana yang disiplin, segmen ini berpotensi tetap menjadi salah satu motor pendapatan bunga BWS,” kata Leo. (*) DW


