Poin Penting:
- Bank Jatim mencatat penyaluran kredit Rp66,4 triliun hingga Juli 2026, turun 2,6 persen secara tahunan.
- Daya beli dan permintaan kredit yang konservatif membuat penyaluran kredit dilakukan lebih selektif.
- Segmen konsumtif berbasis payroll masih menjadi salah satu peluang pertumbuhan positif perusahaan.
Jakarta – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) atau Bank Jatim mencatat penyaluran kredit Rp66,4 triliun hingga Juli 2026. Nilai tersebut terkontraksi 2,6 persen secara tahunan.
Kondisi daya beli dan permintaan kredit menjadi tantangan bagi pertumbuhan pembiayaan. Perusahaan merespons kondisi tersebut dengan memperketat seleksi penyaluran kredit.
Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo mengatakan strategi selektif menjadi pilihan perusahaan. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga kualitas aset di tengah permintaan kredit konservatif.
“Segmen konsumtif, khususnya, kredit berbasis payroll, masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang positif. Oleh karena itu, kami terus mengembangkan layanan yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi nasabah sekaligus memperkuat pangsa pasar,” ujarnya dalam Public Expose Live 2026 (Pubex Live 2026) secara daring di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
Baca juga: Efek Domino Pengalihan Payroll ASN dari BPD: Hentikan Proses “Pengeringan” Ekonomi Daerah
Pada segmen produktif, portofolio kredit perusahaan mencakup beberapa kelompok usaha. Segmen tersebut meliputi mikro, ritel dan menengah, serta korporasi.
KUR Jadi Penopang Segmen Mikro
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat atau KUR menjadi salah satu kontributor penting segmen mikro. Sementara itu, Jatim Ritel menjadi kontributor utama segmen ritel dan menengah.
Strategi tersebut menunjukkan fokus perusahaan pada sektor dengan prospek ekonomi yang masih tersedia. Pendekatan selektif juga berjalan beriringan dengan upaya menjaga kualitas kredit.
Bank Jatim menjalankan langkah preventif dan kuratif untuk mengendalikan risiko pembiayaan. Evaluasi kualitas kredit menjadi bagian dari penguatan pengelolaan portofolio.
Upaya tersebut mencakup penguatan fungsi account officer dan risk. Perusahaan juga menjalankan restrukturisasi serta pengelolaan kredit bermasalah.
Perbaikan proses bisnis turut dilakukan untuk memperkuat pengendalian pembiayaan. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
Monitoring dan controlling dilakukan secara berkala untuk menjaga kualitas kredit. Langkah ini melengkapi berbagai upaya pengendalian risiko yang dijalankan perusahaan.
Kredit Berkelanjutan Capai Rp5,40 Triliun
Selain memperkuat bisnis, Bank Jatim juga mempertahankan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan. Komitmen tersebut tecermin dari penyaluran pembiayaan kepada usaha berwawasan lingkungan.
Pada 2025, penyaluran kredit kepada usaha berwawasan lingkungan mencapai Rp5,40 triliun. Perusahaan juga menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan.
Program CSR tersebut mencakup bidang pendidikan, kesehatan, budaya, dan sosial. Kegiatan pelestarian lingkungan hidup juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan.
Baca juga: Laba Bank Jatim Naik 53,49 Persen jadi Rp1,25 Triliun di Semester I 2026, Ditopang KUB
Memasuki semester II, perusahaan akan kembali memperkuat fundamental bisnis. Keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset menjadi fokus utama.
“Memasuki semester II, Bank Jatim akan terus melakukan penguatan fundamental dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset. Fokus perusahaan mencakup penyaluran kredit yang selektif untuk sektor ekonomi yang masih memiliki prospek,” ujarnya.
Dengan strategi tersebut, Bank Jatim berupaya menjaga momentum bisnis tanpa mengorbankan kualitas aset. Penyaluran kredit selektif menjadi kunci perusahaan menghadapi kondisi permintaan yang masih konservatif. (*)
Editor: Yulian Saputra


