Poin Penting
- BUMN blue chip dinilai menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
- Himbara, MIND ID, Pertamina, dan Telkom berkontribusi besar pada sektor strategis.
- Investasi hilirisasi disebut dapat meningkatkan kontribusi BUMN terhadap ekonomi.
Jakarta – Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai menjadi salah satu faktor penting yang mengerek laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto mengungkapkan, kontribusi tersebut terutama datang dari kelompok BUMN berkapitalisasi besar atau blue chip yang masih mendominasi aktivitas ekonomi nasional.
“Menurut saya, sebagian besar kontributor terhadap pertumbuhan ekonomi masih didominasi blue chip BUMN seperti Himbara yang mendorong transaksi ekonomi tumbuh,” ujar Toto dalam keterangannya, Rabu, 13 Mei 2026.
Toto menjelaskan, bank-bank Himbara berperan dalam menjaga likuiditas dan pembiayaan ekonomi nasional yang menjadi motor penting pertumbuhan konsumsi dan investasi.
Baca juga: Sejumlah BUMN Berpotensi Delisting Saham, DPR Ingatkan Pentingnya Restrukturisasi
Sebagian besar kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masih berasal dari sejumlah BUMN besar yang memiliki peran strategis di sektor energi, telekomunikasi, dan pertambangan.
“MIND ID yang kontribusi ekspor dan penerimaan valas tinggi, serta menumbuhkan bisnis hilirisasi,” sambung Toto.
Menurut Toto, kontribusi ekspor dan penerimaan devisa dari sektor tambang melalui MIND ID turut memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.
Selain itu, ia menilai peran PT Pertamina dan PT Telkom Indonesia juga sangat signifikan dalam menjaga aktivitas ekonomi nasional.
Kedua perusahaan pelat merah tersebut dinilai mampu menciptakan efek berganda melalui penguatan sektor energi dan konektivitas digital yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi modern.
Kontribusi BUMN Dinilai Belum Optimal
Meski demikian, Toto menilai, kontribusi BUMN secara keseluruhan masih belum optimal karena pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada kelompok perusahaan besar saja.
“Hal ini menggambarkan peran BUMN lainnya di luar kelompok blue chip tidak optimal,” lanjutnya.
Baca juga: Soal Rencana Meger AUM BUMN, Bos Bank Mandiri Bilang Begini
Ia menambahkan, kontribusi BUMN terhadap pertumbuhan ekonomi nasional seharusnya dapat lebih besar apabila investasi di sektor hilir dengan nilai tambah tinggi dipercepat. Salah satu contohnya adalah pengembangan industri baterai kendaraan listrik melalui konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC).
“Kontribusi BUMN bisa lebih tinggi apabila mereka bisa lebih banyak investasi di hilir dengan nilai tambah lebih tinggi. Misal, percepatan pembangunan pabrik baterai EV oleh konsorsium IBC yang didominasi BUMN, maka kontribusi perusahaan negara bisa lebih besar,” ucap Toto.
Danantara Fokus Restrukturisasi
Toto juga menyinggung peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia yang saat ini masih fokus melakukan pembenahan internal dan restrukturisasi sejumlah BUMN.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat perusahaan-perusahaan BUMN yang menonjol masih berasal dari sektor-sektor unggulan lama.
“Setelah ada Danantara, BUMN yang berkibar relatif ada di sektor blue chip saja. Danantara juga di periode ini sibuk dengan restrukturisasi, misal Garuda atau beberapa BUMN Karya,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


