Poin Penting
- Rebalancing MSCI Mei 2026 dinilai di bawah ekspektasi karena lebih banyak saham Indonesia dikeluarkan
- Kondisi ini berpotensi memicu outflow asing Rp28–Rp31 triliun dan meningkatkan volatilitas IHSG
- Sentimen negatif diperkirakan menekan pasar jangka pendek akibat berkurangnya bobot Indonesia di MSCI.
Jakarta – Riset Phintraco Sekuritas menilai hasil rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026 cenderung di bawah ekspektasi pasar. Hal ini dikarenakan jumlah saham Indonesia yang dikeluarkan lebih banyak dari perkiraan awal.
Beberapa saham yang dihapus antara lain, AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Kondisi ini mencerminkan penurunan representasi saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.
Menurut analis Phintraco, perubahan tersebut berpotensi memicu passive outflow dan meningkatkan volatilitas jangka pendek, terutama pada saham-saham yang dikeluarkan seiring penyesuaian portofolio investor institusi global berbasis MSCI.
“Dengan country weight Indonesia sekitar 0,72 persen, rebalancing kali ini dapat mendorong potensi outflow sekitar Rp28–Rp31 triliun,” tulis analis Phintraco dalam risetnya di Jakarta, 13 Mei 2026.
Baca juga: IHSG Dibuka Ambles 1,49 Persen usai Pengumuman MSCI
Secara keseluruhan, hasil rebalancing ini dapat menjadi sentimen negatif bagi IHSG karena mencerminkan berkurangnya representasi saham Indonesia dalam indeks MSCI, khususnya pada kategori global standard yang menjadi acuan utama investor institusi asing.
Senada, Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, menuturkan setelah review MSCI hari ini pasar kemungkinan akan merespons cukup negatif dalam jangka pendek karena jumlah saham Indonesia yang keluar dari indeks jauh lebih banyak dibanding ekspektasi pasar.
“Apalagi yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard merupakan saham-saham dengan kapitalisasi besar dan selama ini menjadi target utama dana asing pasif,” ujar Elandry dalam kesempatan terpisah.
Menurut Elandry, sentimen itu memperkuat persepsi bahwa bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets semakin mengecil. Dampaknya bukan hanya arus keluar jangka pendek, tetapi juga menurunkan visibility market Indonesia di mata investor global.
“Dalam beberapa tahun terakhir, market asing memang cenderung semakin selektif terhadap emerging market yang likuiditasnya menurun dan governance-nya dipersepsikan kurang menarik,” imbuhnya.
Ke depan, prospek pasar saham Indonesia kemungkinan masih akan menghadapi tantangan, terutama dari berkurangnya partisipasi asing, pelemahan likuiditas market, tekanan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya persepsi risk premium Indonesia.
Adapun, dalam jangka pendek market cenderung defensif dan volatile, sementara investor kemungkinan akan lebih selektif memilih saham yang likuid, fundamental kuat, valuasi sudah menarik, dan minim risiko foreign outflow lanjutan. (*)
Editor: Galih Pratama


