Poin Penting
- BPR Jatim meraih dua penghargaan di The Finance Top 100 BPR 2026, termasuk Top 100 BPR dan Top 10 CEO
- BPR Jatim tetap mencatatkan pertumbuhan bisnis di tengah tantangan ekonomi dan tingginya suku bunga
- Laba, kredit, dan DPK BPR Jatim tumbuh, dengan total aset menembus Rp4 triliun pada kuartal I-2026.
Yogyakarta – PT BPR Jatim (Perseroda) berhasil mencatatkan prestasi yang membanggakan dengan memboyong dua penghargaan dalam ajang The Finance Top 100 BPR 2026 yang digelar di Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Yogyakarta, Jumat, 19 Juni 2026.
Berkat kinerja yang solid selama tiga tahun periode September 2023-2025, BPR Jatim berhasil masuk jajaran Top 100 BPR 2026 untuk kategori BPR dengan aset di atas Rp100 miliar.
Tak hanya itu, Direktur Utama BPR Jatim Irwan Eka Wijaya Arsyad dinobatkan sebagai Top 10 CEO The Finance. Raihan tersebut tak lepas dari peran orang nomor satu di BPR Jatim ini yang mampu menahkodai perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Irwan mengatakan, pihaknya mengapresiasi penghargaan yang diberikan The Finance yang merupakan bagian dari Infobank Media Group ini kepada BPR Jatim. Baginya, penghargaan ini menjadi suntikan semangat untuk berkinerja lebih baik lagi.
“Terus terang ini (penghargaan) memicu motivasi BPR-BPR untuk berkinerja lebih baik,” jelas Irwan kepada Infobanknews di lokasi acara.
Baca juga: 305 BPR Sabet Penghargaan The Finance Top 100 BPR 2026
Tantangan BPR Masih Berat
Irwan mengakui, menjaga pertumbuhan bisnis BPR saat ini bukan perkara mudah. Industri masih dibayangi ketidakpastian ekonomi domestik, tensi geopolitik, hingga tingginya suku bunga yang berdampak pada biaya dana dan permintaan kredit. Menurutnya, situasi tersebut menimbulkan efek domino terhadap industri BPR.
Meski demikian, BPR Jatim tetap optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan. Hal itu ditopang oleh portofolio pembiayaan yang tersebar di berbagai sektor ekonomi sehingga tidak bergantung pada satu segmen usaha.
“Kami masih optimistis karena sektor ekonomi yang kami layani luas. Jadi ketika satu sektor tidak tumbuh, sektor lain masih bisa bertumbuh sehingga kami tetap bisa bertahan di kondisi ekonomi yang penuh tantangan ini,” ungkapnya.
Kinerja 2024 – 2025
Dari sisi kinerja, BPR Jatim konsisten menjaga pertumbuhan bisnis selama periode 2024 hingga 2025. Berdasarkan data Biro Riset Infobank, BPR Jatim mampu membungkus laba bersih Rp29,02 miliar pada 2025, atau tumbuh 41,90 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp20,45 miliar.
Realisasi kredit juga tumbuh di tengah daya beli masyarakat yang tertekan. Kredit BPR Jatim tumbuh 15,52 persen dari Rp2,78 triliun di 2024 menjadi Rp3,22 triliun pada 2025.
Pun demikian dengan kinerja DPK tumbuh 15,24 persen dari Rp2,72 triliun pada 2024 menjadi Rp3,14 triliun di 2025. Sejalan dengan pertumbuhan kredit dan DPK, total aset perseroan tembus Rp3,95 triliun pada Desember 2025.
Target Kredit Akhir 2026
Irwan mengungkapkan realisasi penyaluran kredit BPR Jatim pada kuartal I 2026 memang mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, secara nominal perseroan masih mencatatkan pertumbuhan dengan realisasi kredit sekitar Rp100 miliar hingga Rp150 miliar pada kuartal I 2026.
“Secara umum kami tumbuh, memang tidak sefantastis tahun lalu, tetapi kami tetap tumbuh,” ujarnya.
Irwan menjelaskan, pertumbuhan kredit masih ditopang sektor-sektor produktif seperti pertanian dan industri rumahan yang relatif lebih tahan terhadap gejolak ekonomi global.
“Penopang pertumbuhan kredit kami didominasi sektor pertanian dan industri rumahan,” paparnya.
NPL Masih Terkendali
Irwan juga mengungkapkan rasio kredit bermasalah (NPL) sempat mengalami kenaikan pada awal tahun akibat melemahnya daya beli masyarakat dan perlambatan ekonomi. Namun, kondisi tersebut mulai membaik pada akhir kuartal pertama.
“NPL kami memang sempat mengalami kenaikan sedikit dari bulan ke bulan. Tapi alhamdulillah di akhir kuartal pertama kondisinya kembali lebih baik. Ini memang dipengaruhi daya beli dan kondisi ekonomi makro maupun mikro yang penuh tantangan,” ujarnya.
Adapun posisi NPL net BPR Jatim pada kuartal I 2026 berada di kisaran 8 persen, dengan target dapat ditekan hingga sekitar 7-8 persen pada akhir tahun.
Baca juga: Perbarindo Dorong BPR/BPRS Perkuat Tata Kelola di Tengah Disrupsi Teknologi AI
DPK Lampaui Target, Aset Tembus Rp4 Triliun
Di tengah perlambatan kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) justru menunjukkan kinerja yang lebih baik. Irwan menyebut, hingga kuartal I 2026 DPK BPR Jatim telah mencapai sekitar Rp2,8 triliun hingga Rp2,9 triliun, melampaui target perseroan sebesar sekitar Rp2,7 triliun.
Sementara itu, total aset BPR Jatim hingga kuartal I 2026 telah menembus Rp4 triliun, memperkuat posisinya sebagai salah satu BPR terbesar di Indonesia. (*)


