Poin Penting
- Prudential Syariah mencatat kontribusi bisnis baru tumbuh 31 persen pada 2025, melampaui rata-rata industri asuransi jiwa syariah.
- Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan kesehatan menjadi pendorong pertumbuhan bisnis.
- Produk penyakit kritis, jaringan distribusi luas, dan kemitraan dengan Bank Syariah Indonesia menjadi penopang utama kinerja.
Jakarta – Kemunculan berbagai wabah penyakit, termasuk Hantavirus, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan dan asuransi medis. Kondisi tersebut turut mendorong pertumbuhan industri asuransi jiwa syariah, termasuk PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah).
“Kalau kita lihat sejak 2020 di mana ada Covid virus, sejak dari itu kesadaran tentang kepentingan untuk ada asuransi medikal itu telah meningkat dengan begitu tinggi ya,” ujar Presiden Direktur Prudential Syariah, Iskandar Ezzahuddin saat konferensi pers Full Year Performance 2025 Prudential Syariah di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Baca juga: Kinerja Prudential Syariah Lampaui Industri: Pendapatan Rp4,2 T, Laba Bersih Rp102 M
Iskandar mengatakan, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap asuransi kesehatan turut mendorong lonjakan kontribusi bisnis baru Prudential Syariah hingga 31 persen secara tahunan menjadi Rp1 triliun pada 2025. Pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata industri asuransi jiwa syariah yang sebesar 13 persen.
“Karena ketidakpastian yang menyelimuti dunia kesehatan, seperti munculnya Covid, Hantavirus, membuat orang lebih concern atas kebutuhan untuk memiliki proteksi,” sambung Iskandar.
Inflasi Medis jadi Tantangan Industri
Kondisi demikian, membuat lembaga yang dinakhodainya memiliki keuntungan tersendiri. Dengan produk proteksi jiwa paling komplit, ia katakan, pihaknya siap melayani kebutuhan masyarakat atas asuransi medikal yang semakin meningkat.
Akan tetapi, melonjaknya kesadaran atas asuransi kesehatan ini tetap diikuti oleh tantangan besar, yaitu inflasi medis. Ia menerangkan, saat ini yang dibutuhkan lembaga asuransi ialah bagaimana mengelola inflasi medis itu, agar tidak terlalu membebani entitas asuransi dalam mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
“Itulah kenapa kita supportive terhadap langkah OJK yang mengubah beberapa hal terkait bagaimana produk asuransi kesehatan harus bekerja. Kita menantikan perubahan ini untuk berdampak dan kita juga bekerja menopang langkah OJK itu,” sebutnya.
Baca juga: Prudential Indonesia Luncurkan PRUMapan
Ia mengatakan, produk asuransi untuk penyakit kritis menjadi penopang pendapatan premi Prudential Syariah pada 2025. Di samping itu, jaringan distribusi terbesar di sektor asuransi syariah yang dimiliki Prudential Syariah turut menopang pertumbuhan bisnis yang ada.
Didukung Jaringan Distribusi dan Kepercayaan Nasabah
Dengan jumlah agen sebanyak lebih dari 64.000 agen dan berpartner dengan entitas bank syariah terbesar nasional, Bank Syariah Indonesia (BSI), menjadi kekuatan Prudential Syariah dari sisi jaringan distribusi.
“Jadi, kombinasi antara kelengkapan produk, jaringan distribusi, dan kepercayaan dari nasabah di mana kita peringkat satu sebagai trusted brand dalam hasil RNPS, adalah pendorong utama kinerja kita di 2025,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Prudential Syariah mencatatkan kinerja ciamik selama 2025. Prudential Syariah melaporkan total pendapatan kontribusi senilai Rp4,2 triliun atau tumbuh 9 persen secara tahunan.
Baca juga: Jurus Prudential Syariah Genjot Pertumbuhan Nasabah
Raihan pendapatan Rp4,2 triliun itu ditopang oleh lonjakan kontribusi bisnis baru yang tumbuh hingga 31 persen secara tahunan ke Rp1 triliun, tertinggi di industri asuransi jiwa syariah.
Di samping itu, Prudential Syariah juga mencatatkan total aset sebesar Rp8 triliun atau tumbuh 20 persen secara tahunan, yang turut menjadikannya sebagai yang terbesar di industri asuransi jiwa syariah Indonesia. Sementara total aset investasinya sebesar Rp6 triliun. (*) Steven Widjaja


