Poin Penting
- Kadin menilai ekonomi Indonesia tetap tumbuh solid di tengah tekanan global.
- Hilirisasi dan komoditas strategis dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia.
- Koordinasi pemerintah dan dunia usaha disebut penting menjaga daya saing nasional.
Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 menjadi sinyal bahwa ekonomi nasional tetap tumbuh konsisten di tengah tekanan dan ketidakpastian global.
“Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026. Di saat pertumbuhan ekonomi menjadi sesuatu yang langka di banyak negara, Indonesia tetap mampu tumbuh secara konsisten,” ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie, dalam keterangannya, dikutip Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Anin, sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja solid, mulai dari konsumsi masyarakat yang tetap kuat, investasi yang terus bergerak, hingga sektor manufaktur yang mengalami ekspansi.
“Dengan kata lain, mesin ekonomi kita bukan hanya berjalan, tetapi mulai mendapatkan momentum yang lebih kuat,” jelasnya.
Baca juga: Kadin Nilai Ekonomi RI Tetap Tangguh, Dorong Reindustrialisasi dan Industri Padat Karya
Meski demikian, Anin mengakui kondisi global saat ini tidak mudah. Ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, gejolak energi, hingga pergerakan mata uang menjadi tantangan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Selain itu lanjut Anin, hasil survei Kadin Business Pulse juga menunjukkan adanya kenaikan biaya produksi, permintaan yang belum merata, serta tingginya ketidakpastian usaha.
“Mari kita jujur, ini bukan situasi yang mudah. Tetapi Indonesia bukan negara yang hanya bisa tumbuh dalam kondisi nyaman,” ujar Anin.
Tiga Faktor Pendorong Ekonomi Indonesia
Lebih lanjut, Anin menilai terdapat tiga faktor utama yang dapat mendorong ekonomi Indonesia ke depan.
Pertama, perubahan arah perdagangan global membuat banyak perusahaan kini tidak hanya mencari efisiensi, tetapi juga kepastian usaha. Menurutnya, Indonesia memiliki kombinasi yang jarang dimiliki negara lain, yakni skala ekonomi besar stabilitas, sumber daya alam, serta kebijakan luar negeri yang terbuka.
Kedua, kata Anin, meningkatkan peran komoditas strategis dunia seperti nikel, kelapa sawit, dan mineral kritis menempatkan Indonesia di posisi penting dalam rantai industri global.
“Indonesia berada tepat di tengah babak baru industri dunia,” kata Anin.
Baca juga: Kadin Ungkap Peran Strategis Elektrifikasi bagi Masa Depan Ekonomi RI
Sementara faktor ketiga, kata Anin, adalah hilirisasi industri yang dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.
“Dari mengekspor apa yang kita ambil dari bumi menjadi mengekspor apa yang kita ciptakan. Di sinilah nilai tambah dibangun, ketahanan dibangun, dan masa depan dibangun,” ujar Anin.
Pemerintah Dinilai Cepat Merespons
Lebih jauh, Anin juga mengapresiasi respons cepat pemerintah setelah rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto langsung mengumpulkan jajaran pimpinan ekonomi nasional, termasuk menteri, regulator, Bank Indonesia, otoritas keuangan, dan penasihat senior untuk memastikan koordinasi tetap berjalan baik.
“Pesannya jelas, tetap waspada, tetap selaras, dan tetap berada di depan menghadapi perubahan,” katanya.
Anin menegaskan koordinasi lintas lembaga saat ini bukan lagi sekadar birokrasi, melainkan bagian dari daya saing nasional. Kadin menyebut pendekatan tersebut sebagai Indonesia Incorporated.
“Satu negara, satu arah, dengan banyak mitra. Karena tidak ada negara yang bisa membangun masa depan sendirian, dan negara yang bergerak paling cepat adalah negara yang bergerak bersama,” ujar Anin.
Investor Tetap Percaya pada Indonesia
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani menilai, dunia saat ini masih menghadapi tantangan besar akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Namun, Indonesia dinilai tetap mampu menjaga ketahanan ekonomi dan momentum pertumbuhan.
“Di tengah tantangan dari luar dengan perang yang masih berjalan, ini memberikan pemahaman dan keyakinan tentang bagaimana Indonesia bisa menavigasi semua keadaan yang ada,” katanya.
Baca juga: Purbaya Bebaskan Pajak Merger BUMN hingga 2029, Target Perampingan Dikebut
Di sisi lain Rosan menyebut, komunikasi terbuka antara pemerintah, investor, dan pelaku usaha menjadi faktor penting untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif. Pemerintah juga terus menyempurnakan kebijakan guna meningkatkan kepastian usaha.
“Mereka (investor dan pelaku usaha) mengerti bahwa Indonesia di tengah tantangan ini tetap resilien, baik dari segi perekonomian maupun kebijakan yang terus disempurnakan,” ujar Rosan.
Hilirisasi Jadi Kunci Masa Depan
Lebih jauh Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, James T. Riady mengatakan, posisi Indonesia semakin strategis karena dunia mulai kembali memperebutkan akses terhadap komoditas penting seperti nikel, minyak sawit, dan mineral kritis.
Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk mempercepat hilirisasi industri nasional.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia penting atau tidak. Pertanyaannya adalah seberapa cepat Indonesia bergerak naik di rantai nilai?” kata James.
Baca juga: Danantara Dinilai jadi Kunci Sukses Hilirisasi Fase II, Ini Dampaknya ke Ekonomi
James menilai hilirisasi menjadi kunci transformasi ekonomi nasional karena mampu menggeser pola ekspor bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Langkah itu dinilai penting untuk membangun ketahanan ekonomi jangka panjang.
“Hilirisasi adalah pergeseran yang mengubah cerita, dari mengekspor apa yang kita ekstraksi menjadi mengekspor apa yang kita ciptakan. Di sinilah nilai dibangun, ketahanan dibangun, dan masa depan dibangun,” pungkas James. (*)
Editor: Yulian Saputra


