Poin Penting
- Kemenhaj memperkirakan potensi ekonomi haji dan umrah di Indonesia mencapai sekitar Rp80 triliun per tahun.
- Pemerintah memperkuat rantai pasok, penggunaan produk lokal, investasi, dan platform digital untuk mendukung ekosistem ekonomi haji.
- Peluang pelaku usaha nasional dalam rantai nilai haji dan umrah diperkirakan dapat mencapai 30-40 persen.
Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkirakan potensi ekonomi haji dan umrah di Indonesia mencapai sekitar Rp80 triliun per tahun.
Pemerintah kini memperkuat ekosistem ekonomi haji agar manfaat penyelenggaraan ibadah juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU).
Langkah ini difokuskan untuk memperbesar keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri.
Baca juga: Daftar Tunggu Makin Panjang, Persiapan Haji Sejak Dini Dinilai Kian Penting
Direktur Jenderal PE2HU Jaenal Effendi mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji tidak hanya berorientasi pada layanan ibadah.
Kebijakan itu juga ditujukan untuk menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Kemenhaj Perkuat Ekosistem Ekonomi Haji
Menurut Jaenal, Kemenhaj terus menjalankan berbagai program strategis guna meningkatkan kontribusi sektor haji dan umrah terhadap pertumbuhan ekonomi.
Program tersebut mencakup penguatan rantai pasok, peningkatan penggunaan produk lokal, hingga pengembangan investasi di sektor pendukung penyelenggaraan haji.
“Pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan upaya untuk memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri,” kata Jaenal, dikutip Antara, Selasa (7/7).
Salah satu upaya yang dijalankan ialah memperluas penetrasi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jemaah haji dan umrah.
Baca juga: Generasi Muda Dominasi Rekening Tabungan Haji Maybank Syariah, Ini Pendorongnya
Hingga kini, pemerintah telah mendorong ekspor 28 jenis bumbu Nusantara dengan volume lebih dari 300 ton.
Selain itu, pemerintah juga telah menyediakan sekitar 3,1 juta paket makanan saji bagi jemaah. Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan rantai pasok nasional.
Penguatan Transportasi dan Investasi
Kemenhaj juga mengembangkan sektor transportasi dan pariwisata melalui optimalisasi penerbangan kosong (empty flight).
Program ini ditujukan untuk mendukung kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah ke Indonesia.
Program tersebut dijalankan bersama berbagai pemangku kepentingan. Hingga saat ini, program telah melayani 1.723 penumpang dan akan terus diperluas.
Baca juga: BSI Genggam Pangsa 83 Persen Jemaah Haji Indonesia
Jaenal mengatakan pemerintah juga memperkuat investasi dari hulu hingga hilir. Penguatan dilakukan melalui sistem pengadaan dan distribusi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jemaah.
Menurutnya, langkah tersebut membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha nasional. Potensi keterlibatan pelaku usaha dalam rantai nilai haji dan umrah diperkirakan mencapai 30-40 persen.
Platform Digital Jadi Penguat Ekosistem
Selain penguatan sektor riil, Kemenhaj terus mengembangkan Platform Ekonomi Haji. Platform ini menjadi sarana integrasi ekosistem ekonomi haji secara digital.
Pengembangan platform bertujuan meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses pelaku usaha nasional. Dengan demikian, peluang bisnis di sektor haji dan umrah diharapkan semakin terbuka.
Baca juga: Antrean Haji Kian Panjang, Muslim Pro Dorong Masyarakat Mulai Rencanakan Haji Sejak Dini
Jaenal menegaskan keberhasilan pengembangan ekosistem ekonomi haji bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Sinergi tersebut dinilai menjadi fondasi untuk memperkuat rantai pasok nasional.
“Ekosistem ekonomi haji tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok nasional, membuka peluang investasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi,” kata dia.
Dengan berbagai langkah tersebut, Kemenhaj berharap potensi ekonomi haji dan umrah yang mencapai sekitar Rp80 triliun per tahun dapat dimanfaatkan secara optimal.
Penguatan ekosistem ini juga diharapkan meningkatkan daya saing produk nasional dan memberi manfaat ekonomi yang lebih luas. (*)
Editor: Yulian Saputra

