Poin Penting
- Pelemahan rupiah ke Rp18.000 per dolar AS belum mendorong lonjakan permintaan produk valas di KB Bank karena nasabah masih wait and see
- Dampak pelemahan rupiah masih terkendali karena porsi kredit valas KB Bank hanya sekitar 13 persen dari total kredit
- Transaksi valas tetap didominasi kebutuhan bisnis riil, sementara nasabah korporasi meningkatkan penggunaan instrumen hedging untuk mengelola risiko kurs.
Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp18.000, belum memberikan dampak signfikan terhadap permintaan produk valuta asing (valas) di PT Bank KB Bukopin Tbk (KB Bank).
Hingga kini, nasabah masih cenderung wait and see dalam menunggu perkembangan pasar sebelum membeli produk mata uang asing.
Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, mengakui bahwa pergerakan nilai tukar mata uang Garuda menjadi salah satu faktor yang terus dipantau perseroan, utamanya terkait debitur yang memiliki fasilitas kredit dalam denominasi valuta asing.
“Pelemahan nilai tukar rupiah merupakan salah satu faktor yang terus kami cermati, khususnya terkait debitur yang memiliki fasilitas kredit dalam denominasi valas,” ujar Kunardy, kepada Infobanknews, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurutnya, porsi kredit valas dalam portofolio kredit bank bersandi BBKP ini masih relatif terbatas, yakni sekitar 13 persen dari total kredit yang disalurkan. Dengan komposisi tersebut, dampak pelemahan rupiah terhadap keseluruhan portofolio kredit pun masih cukup terkendali.
Pembukaan Rekening Valas Belum Meningkat Signifikan
Lanjutnya, meski rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS cukup dalam, KB Bank mencatat belum terjadi lonjakan signifikan dalam pembukaan rekening valas ataupun penempatan dana dalam mata uang asing.
Baca juga: Dua Direktur KB Bank Kompak Mengundurkan Diri
Ia menjelaskan, domnasi nasabah masih menerapkan strategi wait and see sembari mencermati arah pergerakan nilai tukar dan kondisi pasar global.
“Hingga saat ini, tekanan rupiah terhadap dolar AS belum mendorong peningkatan yang signifikan pada pembukaan rekening valas maupun penempatan dana dalam mata uang asing,” jelasnya
Meski begitu, pihaknya secara aktif memantau kebutuhan nasabah terhadap produk dan layanan valas dan memperkuat basis pendanaan valuta asing, terutama dari segmen korporasi yang mempunyai aktivitas bisnis internasional.
Fokus Perkuat Dana Valas dari Nasabah Korporasi
Dari sisi pendanaan, KB Bank kata dia terus mengoptimalkan penghimpunan dana valas melalui basis nasabah korporasi. Adapun, segmen yang menjadi fokus utama antara lain Korean Link, eksportir, serta perusahaan yang memiliki arus kas dalam mata uang asing.
Strategi ini diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas valas, mengendalikan biaya dana atau cost of fund (CoF) agar tetap kompetitif, serta memastikan keseimbangan antara aset dan liabilitas dalam mata uang asing.
“Dengan pendekatan tersebut, bank diharapkan dapat mempertahankan struktur pendanaan yang sehat sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan di tengah volatilitas nilai tukar,” bebernya.
Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, transaksi valuta asing di KB Bank masih didominasi oleh kebutuhan transaksi riil nasabah. Foreign exchange menjadi produk menjadi produk paling banyak digunakan nasabah, termasuk transaksi value today (TOD), tomorrow (TOM), dan spot.
Baca juga: KB Bank Dukung Ekspansi MGM Bosco Logistics untuk Memperkuat Ekosistem Rantai Dingin Nasional
“Transaksi valas di KB Bank masih didominasi oleh transaksi cash foreign exchange, termasuk transaksi TOD, TOM, dan spot. Hal ini sejalan dengan kebutuhan nasabah untuk mendukung aktivitas perdagangan dan operasional bisnis,” jelasnya.
Penguatan Dolar AS Belum Picu Lonjakan Transaksi FX
Kun membeberkan, KB Bank juga mencatat bahwa penguatan dolar AS belum mendorong kenaikan signifikan pada volume transaksi foreign exchange (FX) secara keseluruhan.
Aktivitas transaksi tetap didominasi oleh kebutuhan riil nasabah, khususnya untuk mendukung kegiatan perdagangan internasional dan pemenuhan kewajiban pembayaran impor.
“Secara umum, pelemahan rupiah belum mendorong peningkatan yang signifikan pada volume transaksi foreign exchange di KB Bank. Aktivitas transaksi tetap didominasi oleh kebutuhan riil nasabah,” imbunya.
Selain itu, transaksi valuta asing juga dilakukan dalam koridor regulasi yang berlaku, dengan pengawasan yang ketat dari regulator guna memastikan transaksi dilakukan berdasarkan kebutuhan yang mendasarinya dan bukan untuk tujuan spekulatif.
Kebutuhan Hedging Meningkat di Tengah Volatilitas Rupiah
Di lain sisi, tren kebutuhan nasabah korporasi terhadap layanan treasury menunjukkan kecenderungan yang lebih fokus pada pengelolaan risiko dibandingkan spekulasi terhadap pergerakan kurs.
Menurut Kunardy, di tengah volatilitas nilai tukar, sejumlah nasabah korporasi memanfaatkan instrumen lindung nilai atau hedging seperti transaksi forward dan swap untuk memperoleh kepastian biaya serta mengelola risiko kurs.
“Fokus utama nasabah tetap pada menjaga stabilitas arus kas serta memenuhi kewajiban valas yang mendukung aktivitas bisnis, bukan untuk tujuan spekulatif,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


