Poin Penting
- KBank Indonesia terus mengejar pertumbuhan agresif, dengan aset mendekati Rp25 triliun dan kredit tumbuh 19 persen hingga Juli 2026
- Segmen korporasi menjadi fokus utama, dengan porsi hampir 70 persen dari total kredit, didukung pembiayaan infrastruktur, sindikasi, hingga transaksi lintas negara
- Dukungan KBank Thailand memperkuat transformasi BMAS, mulai dari pendanaan Rp6 triliun, transfer teknologi, hingga penguatan keamanan siber dan infrastruktur IT
Jakarta – Lapangan golf dan ruang rapat menjadi dua dunia berbeda. Namun, bagi Direktur Utama PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk atau KBank Indonesia (BMAS) Kasemsri Charoensiddhi, keduanya memiliki satu kesamaan: konsistensi, strategi dan kemampuan membaca peluang.
Kasemsri mengaku menjadikan golf sebagai satu hobi mengisi waktu luang di akhir pekan. Bahkan, di sela kesibukan memimpin bank, ia juga menyempatkan diri berolahraga, termasuk pilates, menikmati spa dan pijat hingga berburu butik untuk berbelanja.
Kesan santai itu pula yang terasa ketika tim Infobanknews, yakni Muhamad Ibrahim dan Muhamad Zulfikar “bertamu” ke kantor BMAS di Gedung Pacific Century Place, Sudirman Central Business District (SCBD), dalam sebuah wawancara khusus, pada Rabu (26/8).
Perempuan yang akbrab disapa Joy ini menjawab satu per satu pertanyaan Infobanknews seputar transformasi Bank Maspion mulai dari strategi bisnis, digitalisasi, ekspansi kredit, hingga ambisi membesarkan skala bank, terutama setelah mengubah nama menjadi Bank Kasikorn Indonesia Tbk atau KBank Indonesia.
Namun, dibalik gaya bicaranya yang santai, terlihat jelas satu ambisis besar: Menjaga laju pertumbuhan bank agar tetap kencang di tengah transformasi bisnisnya.
Kasemsri telah menakhodai BMAS sejak 1 Januari 2023. Ketika dirinya memulai perjalanan bersama KBank Indonesia, aset bank kala itu masih berada di bawah Rp10 triliun. Kini, nilainya pun telah mendekati Rp25 triliun.
Baca juga: Bank Kasikorn Indonesia Kantongi Pinjaman USD341 Juta dari KBank

Berikut Petikan Wawancara Infobanknews Bersama Kasemsri Charoensiddhi
Bagaimana Anda melihat tantangan yang kini dirasakan ketika memimpin sebagai Direktur Utama KBank Indonesia?
Secara resmi, saya mulai menjabat direktur utama pada 1 Januari 2023. Jadi, sampai hari ini, saya sudah hampir empat tahun.
Tantangan terbesar yang saya lihat saat ini adalah bagaimana menjaga laju pertumbuhan. Kami pun telah berhasil mengembangkan bank secara cukup signifikan, dari ukuran aset yang sebelumnya di bawah Rp10 triliun, sekarang sudah hampir mencapai Rp25 triliun. Jadi, pertumbuhannya cukup cepat.
Dari sudut pandang saya, tantangan terbesar adalah bagaimana kami bisa terus mempertahankan pertumbuhan yang cepat ini. Kami masih memiliki visi besar yang ingin dicapai ke depan.
Bagaimana dengan membangun kepercayaan nasabah, mengingat kepercayaan menjadi hal penting di industri perbankan?
Saya setuju bahwa kepercayaan adalah hal yang paling penting dalam industri perbankan. Hal ini karena kami bergerak di industri jasa dan memberikan layanan kepada nasabah.
Karena itu, kami tentu harus menjaga kepercayaan nasabah, termasuk kepercayaan dari pemasok maupun pihak-pihak yang menjadi mitra kami. Menurut saya, semua titik interaksi yang kami miliki harus dijaga kepercayaannya.
Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa kami melakukan perubahan nama untuk memastikan bahwa nama tersebut benar-benar mencerminkan pemegang saham bank saat ini, yaitu KBank atau Kasikornbank Thailand.
Perubahan nama menjadi KBank Indonesia, salah satunya bertujuan menciptakan kepercayaan yang lebih besar dari nasabah maupun para mitra kami.
Dari perjalanan karier hingga sekarang menjadi CEO, apa saran Anda bagi orang yang ingin menjadi pemimpin?
Saya pikir kerja keras. Saya sering mengatakan kepada tim bahwa mereka harus bekerja keras karena pada akhirnya kerja keras akan membuahkan hasil.
Sebab, ketika orang lain tidak bekerja, sementara Anda tetap bekerja dan bekerja lebih keras dibandingkan orang lain, Anda akan mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan pengalaman.
Bahkan sampai hari ini, saya masih belajar setiap hari. Saya mempelajari hal-hal baru setiap hari. Saya tidak pernah berhenti belajar.
Dan teruslah bekerja keras. Menurut saya, itu yang paling penting.
Bagaimana gaya kepemimpinan yang Anda terapkan, terutama dalam fase transformasi?
Apabila ditanyakan kepada tim, saya pikir sebagian besar orang akan mengatakan bahwa saya sangat terlibat secara langsung atau hands-on. Hal ini karena kami masih belum terlalu besar.
Selain itu, banyak hal yang tengah berjalan karena kami juga sedang tumbuh sekaligus melakukan transformasi.
Menariknya, salah satu komisaris kami pernah mengatakan bahwa kami sedang “memperbaiki pesawat sembari terbang”.
Ini merupakan posisi yang cukup menantang yang sedang saya jalani sekarang. Jadi, saya secara langsung turun tangan untuk memastikan bahwa kami dapat mencapai target yang telah kami tetapkan.
Seperti apa arah dan kebijakan Anda dalam memimpin KBank Indonesia?
Tentu saja, kami memiliki visi yang besar. Kami ingin menjadi bank yang memiliki skala usaha yang besar. Dalam industri perbankan, saya percaya bahwa ukuran bank itu penting. Anda tidak bisa terus berada dalam skala kecil.
Jika melihat regulasi dan rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK), meskipun belum sepenuhnya diberlakukan, saya percaya cepat atau lambat OJK akan terus mendorong konsolidasi industri perbankan.
Ketika saya memulai perjalanan di Indonesia bersama Bank Maspion, yang sekarang menjadi KBank Indonesia, saat itu baru ada sekitar 120 bank. Sekarang jumlahnya sudah menjadi sekitar 105 bank.
Sebelumnya, saya sudah bertemu dengan OJK pekan lalu. Regulator mengundang seluruh CEO bank dalam sebuah forum tahunan.
Di sana, kami berdiskusi dan konsolidasi industri perbankan yang menjadi salah satu agendanya. OJK melihat adanya kebutuhan untuk melakukan konsolidasi di industri perbankan.
Karena itu, visi kami adalah menjadi bank pilihan yang berkelanjutan bagi nasabah. Kami ingin memiliki skala yang cukup besar sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia dan menjadi salah satu mesin pertumbuhan yang mendukung perekonomian Indonesia.
Bagaimana proyeksi bisnis dan pertumbuhan perseroan setelah berganti nama menjadi KBank Indonesia?
Apabila melihat kinerja BMAS tahun ini secara year-to-date, hingga Juli 2026, kredit kami sudah tumbuh 19 persen. Sementara aset kami sudah tumbuh lebih dari 25 persen, yang berarti sudah berada di atas pertumbuhan industri.
OJK sendiri menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 12 persen. Jadi, kami sudah melampaui angka tersebut.
Kami akan terus tumbuh secara agresif, tetapi tetap harus mampu menjaga profitabilitas. Itu merupakan tujuan utama kami.
Bagaimana bentuk dukungan bisnis Kasikornbank Public Company Limited setelah berganti nama menjadi KBank Indonesia?
Sebenarnya, bahkan sebelum perubahan nama, kami sudah melihat banyak dukungan dari KBank. Dukungannya sangat kuat.
Hal tersebut dapat dilihat dari sejumlah aksi korporasi. Ada dukungan pendanaan dalam bentuk pinjaman, termasuk pinjaman dari luar negeri atau offshore borrowing.
Saat ini kami juga sedang menjalankan aksi korporasi lainnya dan berharap proses tersebut dapat selesai pada akhir tahun ini. Hal tersebut sudah menunjukkan banyak tanda adanya dukungan yang kuat.
Selain dari sisi pendanaan, saya pikir mereka juga memberikan dukungan dalam bentuk transfer pengetahuan dari tim di Thailand karena beberapa standar memang berbeda.
Mereka juga memiliki standar yang lebih tinggi di sejumlah area sehingga kami harus meningkatkan standar kami.
Di area-area tersebut, mereka juga memberikan dukungan dalam bentuk pelatihan dan transfer pengetahuan. Salah satu manfaat yang langsung kami lihat setelah perubahan nama adalah peringkat kredit kami. Fitch langsung menaikkan peringkat kami dari AA menjadi AA+.
Saya pikir AA+ sama dengan PT Bank Central Asia (BCA). Peringkatnya sama karena Fitch melihat kondisi perusahaan induk.
Jadi, hal ini menunjukkan komitmen yang sangat kuat terhadap penggunaan nama tersebut. Menurut saya, ini merupakan bentuk dukungan yang sangat kuat.

Bagaimana dengan potensi bisnis perusahaan Thailand yang berinvestasi di Indonesia?
Tentu saja. Nasabah yang memiliki keterkaitan dengan Thailand menjadi peluang yang paling mudah dicapai (low-hanging fruit) bagi kami.
Mereka sudah menjadi nasabah kami di Thailand, sehingga relatif lebih mudah bagi kami untuk menjangkau mereka dan meminta dukungan mereka karena tingkat kepercayaannya sudah terbentuk.
Mereka juga sudah mengetahui bahwa KBank adalah bank yang mereka gunakan di Thailand. Jadi, bagi mereka, memilih kami di Indonesia menjadi lebih mudah.
Kami mendapatkan dukungan yang sangat baik dan kuat dari nasabah-nasabah yang memiliki keterkaitan dengan Thailand di Indonesia.
Bagaimana komposisi target pasar KBank Indonesia?
Karena kami memiliki aspirasi besar dalam hal pertumbuhan dan ukuran bank, kami memprioritaskan segmen perbankan korporasi terlebih dahulu. Namun, bukan berarti kami akan mengabaikan segmen lainnya.
Segmen penting lainnya adalah komersial. Ini merupakan area yang sedang kami pelajari dan sesuaikan seiring berjalannya waktu.
Kami memperkuat tim untuk memastikan dapat menangkap peluang bisnis dari perusahaan menengah atau perusahaan yang berada di bawah segmen korporasi besar. Menurut saya, itu adalah area yang sedang kami garap.
Kami juga memiliki kehadiran yang cukup kuat di Surabaya pada masa lalu. Jadi, saya pikir dari sana kami juga mendapatkan kolaborasi dan dukungan yang baik dari para nasabah.
Segmen lainnya yang akan terus kami eksplorasi dan pastikan dapat kami layani sesuai dengan regulasi adalah UMKM.
Bisa dijelaskan komposisi penyaluran kredit KBank Indonesia?
Mayoritas kredit kami disalurkan ke segmen korporasi. Porsinya hampir 70 persen, sekitar 70 persen atau mendekati 70 persen untuk korporasi.
Kami juga cukup agresif dalam mengikuti sindikasi kredit. Sindikasi kredit tersebut antara lain untuk pembiayaan infrastruktur dan pembiayaan lintas negara.
Dalam hal ini, kami berkolaborasi dengan KBank di Thailand. KBank Thailand menyalurkan pinjaman dalam dolar AS, sementara kami menyalurkan pinjaman dalam rupiah.
Terkadang kami mengikuti sindikasi bersama KBank, dan terkadang kami berdua sama-sama berpartisipasi dalam sindikasi kredit. Di situlah kolaborasi dan arah strategis yang kami kerjakan bersama secara erat.
Kolaborasi tersebut bukan hanya untuk nasabah kantor pusat KBank di Thailand, tetapi juga dengan wilayah lain tempat KBank memiliki kehadiran, terutama KBank China.
Mereka memiliki banyak nasabah karena banyak perusahaan atau investor China yang berinvestasi di Indonesia. Terkadang mereka sudah mengenal nasabah tersebut sehingga mereferensikan nasabah itu kepada kami.
Kami mendukung mereka, dan kemudian mereka juga mendapatkan transaksi lintas negara. Jadi, kolaborasi di antara perusahaan-perusahaan dalam grup cukup kuat.
Apakah KBank Indonesia menargetkan peningkatan pangsa pasar kredit dan DPK secara signifikan setelah rebranding?
Saya pikir dengan nama baru ini, kami dapat memiliki identitas merek yang lebih jelas dan memperkuat kehadiran kami di sini bersama tim eksekutif lokal. Kami juga dapat memiliki kolaborasi yang lebih baik dengan pihak-pihak di Indonesia.
Saat ini, kami memiliki tim direktur yang sangat kuat. Mereka memiliki keahlian lokal yang dapat membantu mengembangkan portofolio kredit.
Di mana, sebagian besar adalah sektor bisnis yang memiliki ketahanan, seperti infrastruktur, makanan dan minuman (food and beverage/F&B), serta logistik. Saya pikir sektor-sektor tersebut merupakan area yang ingin kami dukung.
Kasikornbank Public Company Limited telah memberikan fasilitas pinjaman Rp6 triliun kepada KBank Indonesia. Untuk apa dana tersebut digunakan?
Semuanya untuk pertumbuhan kredit. Kami mengalokasikan seluruhnya untuk pertumbuhan kredit.
Tahun ini, target nasabah kami bukan hanya korporasi, tetapi sebagian besar juga ditujukan kepada BUMN tertentu atau state-owned enterprise, serta yang kami sebut sebagai SMI, SMF, SMV, yaitu Special Mission Vehicle dan badan usaha milik negara.
Segmen-segmen tersebut juga menjadi target yang kami dukung. Segmen ini biasanya membutuhkan jumlah pendanaan dan arus dana yang besar. Jadi, sebagian besar kredit kami salurkan ke segmen tersebut.
Selain itu, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, kami juga mendukung sektor-sektor tertentu seperti makanan dan minuman, logistik, serta sejumlah perusahaan di sektor pertambangan.
Baca juga: KBank Indonesia Bidik Kredit Rp40 Triliun pada 2030, Dorong Konektivitas ASEAN
Bagaimana dengan investasi teknologi informasi (IT) KBank Indonesia? Berapa Capex yang dianggarkan?
Dalam beberapa tahun terakhir, fokus kami adalah memperkuat keamanan siber atau IT cyber security. Ini merupakan prioritas pertama kami.
Selain itu, kami juga memperkuat infrastruktur teknologi informasi. Jadi, kedua hal tersebut merupakan prioritas utama yang sedang kami kerjakan. Prosesnya pun masih berlangsung karena kami melakukan penilaian risiko.
Tak hanya itu, kami mendapatkan dukungan dari tim kami di Thailand. Di Thailand, KBank memiliki anak perusahaan bernama KBTG. Saya pikir KBTG merupakan salah satu perusahaan yang paling dikenal di Thailand dalam bidang teknologi informasi.
Di mana, mereka yang mendukung seluruh infrastruktur dan sistem teknologi informasi di Thailand.
Untuk keamanan IT, posisi kami berada di urutan kedua setelah DBS. Jadi, mereka sangat kuat di Thailand.
Kami juga sangat kuat. Jika diukur dari downtime, tingkat downtime kami merupakan salah satu yang paling rendah.
Selain itu, kami juga memanfaatkan pengetahuan dari kantor pusat. Mereka membantu kami melakukan penilaian risiko mengenai apa saja risiko yang dimiliki Kasikorn Indonesia. Setelah itu, mereka menyusun seluruh persoalan yang ditemukan dan menyelesaikannya satu per satu.
Kami meningkatkan keamanan, memperkuat akses pengguna, serta memperkuat tata kelola untuk memastikan semuanya sesuai dengan standar kantor pusat. Itulah yang menjadi prioritas kami.
Hal tersebut tentu membutuhkan investasi, tetapi saya rasa kami belum dapat mengungkapkan angkanya karena prosesnya masih berlangsung.
Namun, kami memperkirakan secara keseluruhan per tahun. Biaya IT kurang lebih tidak lebih dari 12 persen, sekitar 10 hingga 12 persen.
Itu merupakan angka perkiraan, termasuk seluruh biaya operasional (Opex) dan belanja modal (Capex) per tahun yang berkaitan dengan teknologi informasi. (*)


