Poin Penting:
- Danantara mencatat kapitalisasi pasar Himbara mencapai sekitar Rp1,1 kuadriliun atau setara 10 persen kapitalisasi pasar nasional.
- Himbara diproyeksikan menjadi motor inklusi keuangan melalui perluasan akses pembiayaan bagi UMKM.
- Penguatan sinergi di bawah Danantara harus diimbangi dengan manajemen risiko agar pertumbuhan tetap berkualitas dan berkelanjutan.
Jakarta – Kinerja Danantara kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan bahwa kapitalisasi pasar gabungan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mencapai Rp1,1 kuadriliun. Angka ini dinilai mencerminkan kekuatan besar sektor perbankan BUMN dalam menopang sistem keuangan nasional.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menyatakan bahwa capaian tersebut menunjukkan posisi strategis Himbara di pasar modal Indonesia. Ia menegaskan bahwa nilai kapitalisasi itu menjadi indikator penting kekuatan perbankan pelat merah.
“Dengan kapitalisasi pasar gabungan sekitar Rp1.100 triliun, Himbara memiliki kapasitas yang sangat besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi nasional sekaligus mendukung berbagai program pembangunan yang menjadi prioritas pemerintah,” ujar Rosan Perkasa Roeslani dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Antara, Senin (22/6).
Baca juga: Pasal 50A UU P2SK: Danantara Akan Menjadi Mesin “Pencuci Uang” Terbesar?
Lebih lanjut, Rosan menekankan bahwa porsi kapitalisasi tersebut setara dengan sekitar 10 persen dari total kapitalisasi pasar perusahaan di Indonesia. Hal ini mempertegas peran dominan bank-bank BUMN dalam menopang stabilitas ekonomi nasional.
Danantara dan Posisi Strategis Himbara di Sistem Keuangan
Danantara menilai bahwa besarnya kapitalisasi pasar Himbara bukan hanya mencerminkan kekuatan finansial, tetapi juga peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank-bank pelat merah disebut memiliki tanggung jawab lebih luas dari sekadar mengejar profit.
“Peran Himbara tidak hanya diukur dari pencapaian laba, tetapi juga dari sejauh mana kehadirannya mampu membuka akses dan kesempatan yang setara bagi masyarakat, mulai dari pelaku UMKM hingga sektor usaha yang lebih besar,” ucap Rosan.
Dalam konteks ini, Himbara diharapkan menjadi instrumen pembangunan yang mampu memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Dorongan Peran UMKM dan Akselerasi Ekonomi Nasional
Presiden Prabowo Subianto disebut menaruh harapan besar agar Himbara mampu memperluas jangkauan pembiayaan ke jutaan pelaku UMKM. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan merata.
Penguatan fungsi intermediasi perbankan juga menjadi fokus utama dalam mempercepat penyaluran kredit produktif ke sektor riil. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan perbankan BUMN menjadi faktor kunci dalam mendorong efektivitas pembiayaan.
Baca juga: Kapitalisasi Pasar Himbara Tembus Rp1.100 Triliun, Setara 10 Persen Nilai Perusahaan RI
Konsolidasi dan Sinergi di Bawah Koordinasi Danantara
Pengamat perbankan Moch. Amin Nurdin menilai transformasi peran Himbara semakin solid seiring penguatan koordinasi di bawah Danantara Indonesia sebagai pengelola BUMN. Ia menilai konsolidasi ini membuat arah kebijakan perbankan negara lebih terintegrasi.
“Di bawah koordinasi Danantara dan arahan Presiden (Prabowo Subianto), terdapat penguatan sinergi antarlembaga perbankan negara sehingga fungsi intermediasi Himbara semakin selaras dengan agenda pembangunan nasional yang ditetapkan pemerintah,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ekspansi bisnis perbankan harus diimbangi dengan penguatan manajemen risiko agar kualitas pertumbuhan tetap terjaga.
Tantangan Risiko dan Kualitas Pertumbuhan Perbankan BUMN
Menurut Amin, tantangan utama Himbara ke depan bukan hanya ekspansi kredit, tetapi memastikan kualitas pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan. Risiko pembiayaan diperkirakan meningkat seiring perluasan mandat penyaluran kredit.
“Tantangan terbesar Himbara ke depan bukan semata mengejar pertumbuhan kredit, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut tetap berkualitas, didukung manajemen risiko yang kuat, serta mampu menjaga profitabilitas secara berkelanjutan,” tuturnya.
Pendekatan kehati-hatian dinilai menjadi kunci agar ekspansi tidak mengganggu stabilitas kinerja perbankan dalam jangka panjang.
Baca juga: Global Bond Danantara Laris Manis di Tengah Outflow Asing: Kepercayaan Pasar atau Duit Konglo Indonesia yang “Menyamar”?
Secara keseluruhan, Danantara menegaskan bahwa kapitalisasi pasar Himbara yang mencapai Rp1,1 kuadriliun menunjukkan kekuatan besar sektor perbankan BUMN sekaligus peran strategisnya dalam mendukung agenda pembangunan nasional. (*)
Editor: Yulian Saputra


