Poin Penting
- Kadin menilai program MBG menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional.
- Program MBG disebut menyerap 1,3 juta tenaga kerja dan menciptakan efek berganda besar.
- Putaran uang dari MBG mencapai Rp900 miliar per hari pada kuartal I-2026.
Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu motor penggerak baru pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.
Menurutnya, program yang digagas Presiden Prabowo Subianto juga menjadi instrumen strategis dalam mendorong pemerataan ekonomi di berbagai wilayah. Sebab, di tengah capaian pertumbuhan ekonomi 5,61 persen (yoy), program ini tercatat mengalami ekspansi luar biasa, dengan skala pelaksanaan melonjak lebih dari 2.400% secara tahunan (yoy).
“Jika pada kuartal I-2025 MBG masih berada pada tahap awal dengan 900 dapur, 2,5 juta porsi per hari, dan melibatkan sekitar 45.000 pekerja, pada kuartal I-2026 program ini telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi raksasa,” ujar Anin, dalam keterangannya, dikutip Kamis, 7 Mei 2026.
Baca juga: Anggaran MBG Tembus Rp55 Triliun hingga Maret 2026
Anin mengatakan, jumlah dapur meningkat menjadi 26.066 unit, produksi mencapai 60 juta porsi per hari, dan menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja. Putaran uang yang dihasilkan juga melonjak tajam dari Rp37,5 miliar per hari menjadi sekitar Rp900 miliar per hari.
“Ini mencerminkan efek pengganda (multiplier effect—Red) yang sangat kuat terhadap perekonomian domestik,” bebernya.
Dorong Konsumsi dan Pemerataan Ekonomi
Ekspansi masif ini, kata Anin, menjadikan MBG sebagai salah satu program dengan serapan anggaran tercepat di awal tahun 2026, dengan nilai belanja diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun.
Besarnya belanja tersebut langsung mengalir ke masyarakat melalui rantai pasok pangan, distribusi, logistik, hingga tenaga kerja lokal.
Bahkan, dampaknya tidak hanya terasa pada peningkatan konsumsi rumah tangga, tetapi juga pada penguatan sektor riil, terutama pertanian dan konstruksi, yang mengalami peningkatan aktivitas seiring kebutuhan bahan baku dan pembangunan infrastruktur pendukung dapur MBG.
Baca juga: Program MBG Dorong Lonjakan Inflasi Telur dan Daging Ayam Ras
Lebih dari sekadar stimulus ekonomi jangka pendek, MBG juga memainkan peran penting dalam mendorong pemerataan ekonomi. Program ini telah menjangkau sekitar 56,13 juta penerima di seluruh provinsi, menjadikannya salah satu intervensi pemerintah dengan cakupan paling luas.
Dengan distribusi yang merata hingga ke daerah, MBG membantu mengalirkan likuiditas ke wilayah-wilayah yang sebelumnya memiliki akses ekonomi terbatas, sehingga memperkecil kesenjangan antarwilayah.
Pemerataan Lapangan Kerja
Efek pemerataan ini terlihat dari penciptaan lapangan kerja yang tersebar luas, mulai dari petani, pelaku UMKM pangan, hingga pekerja dapur dan distribusi. Dengan lebih dari 1,3 juta tenaga kerja terlibat, MBG menjadi salah satu program padat karya terbesar saat ini, sekaligus memperkuat basis ekonomi lokal.
Anin menambahkan, aktivitas ekonomi yang tercipta di daerah juga berkontribusi pada peningkatan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya kembali mendorong konsumsi domestik sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pada saat yang sama, dorongan dari MBG berjalan beriringan dengan peningkatan investasi nasional.
Realisasi investasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp498 triliun, tumbuh 7 persen yoy, dengan penyerapan tenaga kerja meningkat 19 persen menjadi 706.569 orang.
“Program hilirisasi yang digerakkan melalui investasi, termasuk proyek-proyek strategis yang mulai berjalan sejak awal 2026, memperkuat struktur ekonomi dari sisi produksi, sementara MBG memperkuat sisi konsumsi dan distribusi,” papar Anin.
Baca juga: Viral MBG Pakai Kantong Plastik, Ini Klarifikasi SPPG dan Penegasan SOP BGN
Dengan kombinasi tersebut, kata Anin, MBG tidak hanya berfungsi sebagai program sosial, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang efektif dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Program ini memperlihatkan bagaimana belanja pemerintah yang tepat sasaran dapat menciptakan efek berantai, mendorong konsumsi, menciptakan lapangan kerja, memperkuat sektor riil, sekaligus mempercepat pemerataan ekonomi.
Keberlanjutan dan efektivitas MBG akan sangat menentukan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan.
“Dalam konteks ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, program ini menjadi salah satu fondasi penting bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


