Poin Penting
- Literasi keuangan pelajar dan mahasiswa masih 62 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional yang mencapai 69 persen berdasarkan SNLIK 2026
- Inklusi keuangan segmen pelajar mencapai 92 persen, mendekati rata-rata nasional 93 persen, sehingga masih menjadi perhatian OJK
- OJK memperkuat edukasi keuangan sejak dini melalui program Bank Goes to School, Sekolah Rakyat, dan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan untuk mengejar target inklusi 98 persen pada 2045.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa masih berada di bawah rata-rata nasional.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa tercatat sebesar 62 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tingkat literasi keuangan nasional yang mencapai 69 persen.
Sementara itu, tingkat inklusi keuangan pelajar dan mahasiswa mencapai 92 persen, hanya sedikit di bawah angka nasional sebesar 93 persen.
Kondisi ini menjadi salah satu perhatian OJK dalam memperkuat edukasi dan akses terhadap produk serta layanan keuangan sejak usia sekolah.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, peningkatan literasi dan inklusi keuangan pada segmen pelajar dan mahasiswa masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Sedangkan untuk segmen pelajar dan mahasiswa, literasinya masih 62 persen dan juga inklusinya 92 persen. Sehingga masih menjadi PR kita semua bagaimana meningkatkan segmen pelajar dan mahasiswa terkait dengan indeks literasi dan inklusi keuangannya,” ujarnya dalam agenda Hari Indonesia Menabung dan puncak Bulan Literasi Keuangan 2026, Jumat, 28 Agustus 2026.
Baca juga: Bos OJK Ungkap Kapan Sarjito Mulai Bertugas Pimpin BMKS
Pelajar dan Mahasiswa Capai 88 Juta Orang
Wanita yang akrab disapa Kiki ini menyoroti besarnya jumlah populasi pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlahnya mencapai sekitar 88 juta orang atau sekitar 30 persen dari total penduduk Indonesia.
“Kalau kita melihat jumlahnya, ini data BPS, ada 88 juta penduduk Indonesia usia pelajar dan mahasiswa. Ini mewakili sekitar 30 persen dari seluruh masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Besarnya jumlah populasi tersebut, kata Kiki, menjadi alasan pentingnya penguatan edukasi keuangan sejak dini untuk membentuk kebiasaan masyarakat dalam mengelola keuangan.
Jurus OJK Perkuat Literasi
Untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, OJK bersama pelaku usaha jasa keuangan serta kementerian dan lembaga menjalankan berbagai program edukasi.
Dalam setahun terakhir, tercatat sekitar 679 ribu rekening pelajar baru dibuka dan sebanyak 270 ribu kegiatan Bank Goes to School telah dilaksanakan.
OJK juga mulai memperluas program edukasi tersebut ke lingkungan Sekolah Rakyat. Sepanjang 2026, kegiatan literasi dan inklusi keuangan telah dilakukan bersama 29 Sekolah Rakyat di berbagai daerah.
Berbagai program tersebut merupakan bagian dari Gerakan Nasional Cerdas Keuangan yang mengorkestrasi kegiatan edukasi dan literasi keuangan bagi masyarakat.
OJK juga menggandeng pemerintah daerah melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) untuk memperluas akses layanan keuangan di daerah.
Ke depan, OJK menargetkan tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 98 persen pada 2045, sejalan dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2045.
Baca juga: OJK Dorong Regulasi Adaptif di Tengah Pesatnya Inovasi Keuangan Digital
Peningkatan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu bagian dari upaya mencapai target tersebut.
“Karena ini dimandatkan di undang-undang untuk kita melakukan edukasi dan literasi kepada masyarakat, termasuk para Pelaku Usaha Jasa Keuangan ini juga diwajibkan untuk melakukan edukasi dan literasi yang juga dilaporkan kepada OJK,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


