Poin Penting
- Literasi penjaminan simpanan di Lampung masih rendah, dengan pengetahuan masyarakat terhadap LPS baru 46,31 persen, di bawah angka nasional 62,51 persen
- LPS memperkuat edukasi keuangan di Lampung melalui Lampung Financial Festival 2026 untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda
- LPS akan mengukur dampak program edukasi melalui survei lanjutan bersama lembaga independen. LPS berharap tingkat literasi Lampung meningkat.
Lampung – Literasi masyarakat mengenai penjaminan simpanan masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat literasi keuangan terkait penjaminan secara nasional baru mencapai 62,51 persen.
Kesenjangan literasi juga masih terlihat di sejumlah daerah, termasuk Lampung. Pengetahuan responden mengenai Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Lampung tercatat baru 46,31 persen. Sementara, pengetahuan masyarakat bahwa simpanannya dijamin baru mencapai 58 persen.
Kondisi tersebut mendorong LPS memperkuat edukasi keuangan, khususnya bagi masyarakat dan generasi muda di daerah. Salah satunya melalui gelaran Lampung Financial Festival 2026 (LFF 2026) di Novotel Lampung pada 4-5 September 2026.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan, LPS memiliki peran dalam mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya di Lampung.
“Jika ditanya kenapa Lampung? Karena memang Lampung ini secara rata-rata masih di bawah nasional pengetahuan mengenai LPS dan masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Meski demikian, menurut Anggito, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi simpul penyebaran literasi keuangan di wilayah tersebut.
“Dengan begitu, semakin banyak masyarakat memahami peran LPS dan memiliki kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional,” tambahnya.
Baca juga: Kemenkeu dan LPS Kompak Soroti SMV yang Minta Special Rate, Ini Alasannya
Tantangan Literasi Penjaminan
Anggito mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang membuat literasi masyarakat mengenai penjaminan simpanan relatif rendah. Persoalan tersebut antara lain edukasi yang belum merata, rendahnya kepedulian masyarakat terhadap penjaminan, serta keterbatasan jangkauan LPS.
“Memang edukasinya tidak merata. Yang kedua, memang banyak yang tidak peduli dengan jaminan. Terus yang ketiga, tentu kami sendiri kurang menjangkau,” kata Anggito
Menurutnya, rendahnya literasi membuat masyarakat belum sepenuhnya memahami perlindungan terhadap dana yang disimpan di perbankan. Masyarakat perlu mengetahui jumlah simpanan yang dijamin serta jenis simpanan yang masuk dalam cakupan penjaminan LPS.
Keterbatasan jangkauan juga menjadi salah satu kendala LPS dalam memperluas edukasi. Saat ini, LPS hanya memiliki tiga kantor, yakni di Medan, Makassar, dan Surabaya.
Baca juga: LPS Dorong Bank dan Deposan Besar Kurangi Penggunaan Special Rate
Karena itu, LPS melakukan pemetaan untuk menentukan daerah yang membutuhkan penguatan literasi. Lampung menjadi salah satu wilayah yang disasar melalui Lampung Financial Festival 2026.
Dalam kegiatan tersebut, LPS menghadirkan sejumlah tokoh dan narasumber untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta perspektif mengenai pengelolaan keuangan, investasi, kewirausahaan, hingga tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat dan generasi muda.
Sejumlah nama yang hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, COO BPI Danantara Dony Oskaria, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Rafi Ahmad, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, Chairman CT Corp Chaerul Tanjung, Gubernur Lampung Rahmat Marzuni, hingga Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha. (*)


