Poin Penting
- Jobstreet by SEEK: Gen Z paling berani negosiasi gaji, 60 persen aktif dan 83 persen berhasil naik gaji
- Gen Y lebih proaktif dari Gen X dalam diskusi gaji, dipengaruhi keterbukaan informasi dan fase karier
- 64 persen pekerja nyaman negosiasi gaji; sektor teknologi dan industri catat persepsi gaji layak tertinggi.
Jakarta – Jobstreet by SEEK merilis laporan terbaru bertajuk Salary Pulse 2026 yang mengungkap dinamika gaji pekerja di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. Survei ini memotret sikap, pengalaman, hingga praktik negosiasi gaji di berbagai kelompok usia dan sektor industri.
Di Indonesia, laporan disusun berdasarkan survei daring yang dilakukan bersama lembaga riset Nature pada Februari 2026 terhadap 1.010 profesional berusia 18–64 tahun.
Hasilnya, Generasi Z tercatat sebagai kelompok paling proaktif dalam membicarakan kenaikan gaji. Sebanyak 60 persen Gen Z mengaku memulai diskusi atau negosiasi gaji dengan HRD atau atasan, meski 49 persen di antaranya merasa gaji mereka sudah layak.
Sebagai perbandingan, 55 persen Gen Y (milenial) juga memulai diskusi serupa dengan 49 persen merasa gaji sudah layak. Sementara itu, hanya 37 persen Gen X yang aktif memulai negosiasi, dengan 41 persen merasa tingkat gaji mereka sudah sesuai.
Baca juga: Survei Jobstreet: 66 Persen Pekerja Indonesia Puas dengan Gajinya
Managing Director Jobstreet Indonesia, Wisnu Dharmawan, menilai keberanian Gen Z dan Gen Y dipengaruhi keterbukaan informasi di era digital yang membuat mereka lebih percaya diri dalam menegosiasikan kompensasi.
“Lebih banyak juga mungkin mengemukakan pendapat. Lahir di era yang sudah demokratis juga gitu, dan bisa dikomunikasikan secara offline, online, segala macam. Dengan informasi yang banyak, maka lebih tidak sungkan gitu ya,” ujar Wisnu dalam media briefing peluncuran Salary Pulse 2026 di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, berbeda dengan Gen Z dan Gen Y, Gen X yang tumbuh di era keterbatasan informasi cenderung lebih berhati-hati dalam membahas isu gaji. Selain itu, faktor tahapan kehidupan juga turut memengaruhi.
“Ditambah juga barangkali mereka (gen X) merasa sudah cukup atau selesai dengan segala urgensi kebutuhan hidup, seperti anak yang sudah dewasa dan sebagainya. Berbeda dengan gen Z dan Y yang baru merajut kehidupan finansialnya,” imbuh Wisnu.
Survei juga mencatat, sekitar 64 persen pekerja di Indonesia—khususnya level senior/mid dan milenial—merasa nyaman membahas kenaikan gaji, dengan tingkat keberhasilan negosiasi mencapai 83 persen.
Sementara itu, hanya 11 persen responden yang mengaku permintaan kenaikan gajinya ditolak. Adapun respons lanjutan dari hasil negosiasi menunjukkan 28 persen meminta tambahan benefit, 27 persen meminta kenaikan lebih tinggi, 19 persen menerima namun mengalami penurunan motivasi kerja, 14 persen menerima tanpa perubahan sikap, dan 8 persen memilih mencari pekerjaan baru.
“Di senior atau mid-role, mereka lebih tidak sungkan. Karena, mungkin sudah merasa lebih senior di perusahaannya. ‘Saya kalau minta kenaikan gaji, lebih oke nih’. Begitu kalau dari sisi roles, dari sisi senioritas,” terang Wisnu.
Baca juga: Wacana Potong Gaji Menteri, Purbaya: Mungkin 25 Persen
Dari sisi sektor, pekerja di bidang teknologi (61 persen) dan industri (54 persen) menjadi kelompok yang paling banyak merasa gajinya sudah layak. Disusul sektor konstruksi (48 persen), jasa profesional (47 persen), serta administrasi, layanan pelanggan, dan penjualan (45 persen).
Kenaikan gaji di sektor teknologi juga tercatat paling agresif, dengan rata-rata di atas 10 persen pada 2025. Selain itu, pekerja di sektor teknologi dan industri dinilai lebih terbuka dalam membahas kompensasi dengan perusahaan.
“Bagi perusahaan sendiri, mereka melihat menaikkan gaji ialah strategi yang lebih praktikal. Mengingat, turnover akibat resignation itu kan juga memakan biaya dan waktu yang tentu tak sedikit,” tandas Wisnu. (*) Steven Widjaja


