Poin Penting
- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berpeluang melakukan buyback saham untuk program karyawan, namun masih dalam kajian dan belum masuk RBB
- Danantara Indonesia menilai buyback wajar saat saham undervalued dan mencerminkan fundamental kuat
- BTN juga ekspansi lewat akuisisi aset dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk untuk memperkuat portofolio kredit dan kinerja.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) membuka peluang melakukan pembelian kembali saham (buyback), seiring dorongan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengungkapkan, opsi buyback saham tersebut akan diarahkan untuk mendukung kepemilikan saham bagi karyawan.
Metode tersebut dipertimbangkan mengingat saat ini porsi saham publik di BBTN telah berada pada batas ketentuan minimum.
“Saat ini harga saham BBTN sudah cukup undervalued, sehingga kemungkinan yang bisa kami kaji adalah pembelian saham untuk kebutuhan program karyawan seperti bonus atau stock option,” jelas Nixon di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.
Meski demikian, Nixon menegaskan bahwa rencana buyback saham belum masuk dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) perseroan.
Baca juga: BI Rate Naik ke 5,75 Persen, Ekonom BTN Prediksi Ruang Kenaikan Suku Bunga Makin Terbatas
Bank pelat merah ini pun masih akan mengkaji kemungkinan memasukkan program tersebut dalam revisi RBB mendatang.
“Saat ini belum masuk dalam Rencana Bisnis Bank [RBB], tetapi akan kami coba kaji untuk dimasukkan dalam revisi RBB,” jelasnya.
Selain faktor valuasi saham, Nixon menyebut bahwa peluang untuk melakukan buyback juga terbatas lantaran porsi kepemilikan saham publik BTN kini telah berada pada batas minimum yang dipersyaratkan regulator.
Danantara Sebut Buyback Langkah yang Wajar
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menilai buyback merupakan aksi korporasi yang wajar, khususnya ketika harga saham dinilai belum mencerminkan fundamental perusahaan.
“Buyback itu sebenarnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu bisa menjadi pilihan. Daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi pada saham perusahaan sendiri apabila memang fundamentalnya kuat,” ujar Dony.
Baca juga: BTN Integrasikan 4,8 Juta Pilihan Properti Rumah123 ke Bale by BTN
Menurutnya, sejumlah perusahaan BUMN memiliki fundamental bisnis yang solid, termasuk sektor perbankan, pertambangan, infrastruktur, hingga pengembangan usaha lainnya. Karena itu, perusahaan dengan fundamental baik memiliki potensi untuk terus menciptakan nilai bagi pemegang saham.
BTN Perkuat Bisnis Lewat Akuisisi Aset SMBC Indonesia
Di tengah kajian buyback saham, BTN juga terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan organik dan anorganik. Teranyar, perseroan tengah memproses pembelian portofolio aset dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk.
Dalam keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan, Senin (25/5), BTN telah menandatangani dua perjanjian pengalihan atas kredit pensiunan, kredit pra pensiunan, dan kredit karyawan aktif pegawai BUMN atau lembaga pemerintahan milik Bank SMBC Indonesia.
Penandatanganan dilakukan pada 22 Mei 2026 melalui skema Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA).
Adapun, dalam transaksi CPTA, BTN akan mengakuisisi portofolio pinjaman pensiunan dan pra-pensiunan dengan manfaat pensiun yang dikelola TASPEN dengan estimasi nilai sebesar Rp12,58 triliun.
Sementara melalui transaksi CLATA, BTN akan mengakuisisi aset pinjaman terkait pensiunan ASABRI, dana pensiun lainnya, serta pinjaman karyawan aktif baik BUMN maupun lembaga pemerintahan dengan estimasi nilai sebesar Rp7,34 triliun.
Analis Nilai Akuisisi Berpotensi Tambah Nilai BTN
Sementara itu, Analis Bahana Sekuritas, Razqi M Kurniawan, menilai, rencana pembelian aset tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah signifikan bagi BTN tanpa menyebabkan dilusi terhadap pemegang saham.
Menurutnya, tambahan portofolio kredit tersebut bisa memperkuat struktur aset perseroan melalui lonjakan yield, risiko kredit yang lebih terjaga, serta profil aset dengan durasi yang lebih pendek.
Bahkan, langkah ekspansi tersebut dinilai membantu BTN menghadapi pelbagai tantangan struktural sekaligus memperkuat kinerja bisnis di tengah dinamika industri perbankan nasional. (*)
Editor: Galih Pratama


