Poin Penting
- Jangan tergiur kemudahan pinjaman digital, calon debitur perlu menyesuaikan pembiayaan dengan kemampuan finansial
- Pahami total biaya pinjaman, termasuk bunga, tenor, administrasi, provisi, denda, dan penalti pelunasan
- Utamakan keamanan dan legalitas, pastikan penyedia pembiayaan resmi serta informasi produk diperoleh dari kanal terpercaya.
Jakarta – Kemudahan mengajukan pinjaman lewat kanal digital sering kali membuat keputusan mengambil pembiayaan terasa sesederhana beberapa kali klik.
Padahal, di balik proses yang cepat, ada kewajiban yang harus dibayar selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Karena itu, calon debitur tidak cukup hanya melihat berapa besar cicilan per bulan sebelum memutuskan meminjam.
Wakil Direktur Utama OK Bank Indonesia, Hendra Lie, mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil pinjaman hanya karena proses pengajuannya mudah. Menurutnya, keputusan mengambil pembiayaan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing.
“Di tengah semakin mudahnya akses terhadap layanan pembiayaan, masyarakat perlu memastikan bahwa setiap keputusan untuk mengambil pinjaman telah melalui pertimbangan yang matang,” ujarnya, dikutip Jumat (11/9).
Baca juga: Hindari Pinjol Ilegal, Ini Daftar 94 Pindar yang Resmi Berizin OJK September 2026
Ada beberapa hal yang sebaiknya diperiksa calon debitur sebelum menekan tombol pengajuan. Pertama, jangan hanya terpaku pada angka cicilan.
Bunga pinjaman perlu dipahami, termasuk bagaimana bunga tersebut dihitung dan berapa total pembayaran yang harus diselesaikan sampai pinjaman lunas.
Pasalnya, cicilan bulanan yang terlihat ringan belum tentu berarti biaya pinjamannya murah. Semakin panjang tenor, cicilan memang bisa terasa lebih ringan, tetapi total pembayaran yang dikeluarkan selama masa pinjaman dapat menjadi lebih besar.
Sebaliknya, tenor pendek membuat pinjaman lebih cepat lunas, tetapi cicilan bulanannya tentu lebih berat.
Kedua, hitung seluruh biaya, bukan hanya bunga. Biaya administrasi, provisi, penalti pelunasan lebih awal hingga denda keterlambatan perlu diperiksa sejak awal. Informasi tersebut penting agar calon debitur memiliki gambaran utuh mengenai berapa dana yang harus disiapkan.
“Memahami bunga, tenor, biaya, serta seluruh syarat dan ketentuan merupakan langkah penting agar fasilitas pembiayaan dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan kemampuan finansial,” kata Hendra.
Ketiga, pastikan pinjaman memang sesuai dengan kemampuan membayar. Jangan sampai keputusan mengambil pinjaman didasarkan semata-mata karena kebutuhan sedang mendesak atau proses pengajuan terasa mudah.
Calon debitur perlu menghitung kembali pemasukan, pengeluaran rutin, serta kewajiban lain yang sudah berjalan.
Baca juga: Warga RI Makin Doyan Utang di Pindar, Ini Buktinya
Di tengah maraknya layanan keuangan digital, aspek keamanan juga tidak kalah penting. Masyarakat perlu memastikan pengajuan dilakukan melalui kanal resmi lembaga keuangan dan tidak sembarangan memberikan data pribadi.
Legalitas dan kredibilitas penyedia layanan juga perlu diperiksa sebelum mengajukan pinjaman.
Hendra menambahkan, memilih lembaga keuangan yang terpercaya merupakan bagian dari kehati-hatian sebelum mengambil fasilitas pembiayaan.
“Masyarakat perlu memastikan informasi mengenai produk, persyaratan, maupun mekanisme pembayaran diperoleh dari sumber resmi,” imbuhnya. (*) Alfi Salima Puteri


