Poin Penting
- Bank Bengkulu mengandalkan Tabungan Simpeda sebagai produk utama, dengan pertumbuhan sekitar 5-7 persen per tahun.
- Laba Bank Bengkulu melonjak 30,53 persen pada semester I-2026 menjadi Rp71,2 miliar, ditopang pertumbuhan pendapatan dan efisiensi biaya.
- Bank Bengkulu membidik posisi nomor satu di Bengkulu, setelah saat ini memiliki market share sekitar 30-35 persen dan berada di posisi kedua setelah BRI.
Bengkulu – Tabungan Simpanan Pembangunan Daerah (Simpeda) menjadi salah satu instrumen utama PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu (Bank Bengkulu) dalam menghimpun dana masyarakat. Berbeda dengan sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) yang memiliki produk tabungan unggulan masing-masing, Bank Bengkulu memilih memaksimalkan Simpeda sebagai produk andalan.
Strategi tersebut juga didukung dengan penyelenggaraan program undian yang rutin. Pertumbuhan Simpeda pun tercatat sekitar 5-7 persen per tahun.
Momentum menjadi tuan rumah Undian Nasional Tabungan Simpeda Tahun XXXVII-2026 dimanfaatkan untuk meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap produk tersebut. Perseroan bahkan membuka malam puncak pengundian untuk masyarakat umum sebagai bagian dari strategi edukasi dan kampanye.
Di sisi lain, Bank Bengkulu masih menghadapi persaingan ketat dalam memperebutkan pasar perbankan di Provinsi Bengkulu. Saat ini, pangsa pasar Bank Bengkulu berada di kisaran 30-35 persen, menempatkannya di posisi kedua setelah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
Baca juga: Asbanda Segel Alat Undi, Bank Bengkulu Siap Gelar Puncak Undian Tabungan Simpeda

Berikut petikan wawancara tim redaksi Infobanknews.com dengan Direktur Utama Bank Bengkulu, Iswahyudi, Rabu (19/8) di sela kegiatan penyegelan alat undi di Graha Bank Bengkulu.
Mengapa Bank Bengkulu menjadikan Tabungan Simpeda sebagai produk andalan?
Jadi, memang kami sudah beberapa tahun ini menjadikan Tabungan Simpeda sebagai produk andalan. Karena untuk tabungan yang lain, kami tidak memiliki program undian.
Bank Bengkulu juga tidak seperti sejumlah bank daerah lain yang memiliki produk tabungan unggulan tersendiri. Misalnya, Bank Sumsel Babel memiliki Tabungan Pesirah dan produk lainnya.
Setiap BPD memang memiliki produk masing-masing. Namun, kami memilih menjual Simpeda karena memiliki program undian yang rutin dan bersifat nasional.
Produk tabungan lain sebenarnya ada, tetapi tidak kami pasarkan secara masif.
Artinya, porsi Tabungan Simpeda menjadi yang terbesar di Bank Bengkulu?
Iya. Tabungan Simpeda menjadi yang utama.
Sisanya merupakan produk-produk tabungan yang sudah ada sebelumnya, seperti Tapeda. Namun, produk tersebut juga kami ikutsertakan dalam program undian.
Bagaimana perkembangan Tabungan Simpeda dari tahun ke tahun?
Perkembangannya cukup baik. Jadi, ketika nasabah datang ke bank, produk yang kami tawarkan adalah Tabungan Simpeda. Sementara produk tabungan lainnya lebih bersifat komplementer, seperti Tabungan Pelajar dan Tabunganku.
Dulu kami juga memiliki produk bernama Tabungan Tabot. Namun, sekarang fiturnya kami samakan dengan Tabungan Simpeda. Karena itu, ketika menawarkan produk tabungan kepada nasabah, saat ini kami lebih banyak mengarahkan untuk membuka rekening Tabungan Simpeda.
Seberapa besar pertumbuhan Tabungan Simpeda?
Kenaikannya moderat, sekitar 5-7 persen per tahun.
Hal tersebut karena basis nasabah kami masih cukup banyak berasal dari kalangan pegawai negeri sipil atau PNS.
Apa yang ingin dicapai Bank Bengkulu dengan menjadi tuan rumah pengundian Simpeda?
Harapan kami, masyarakat Provinsi Bengkulu semakin mencintai produk Tabungan Simpeda.
Karena itu, kami ingin menghadirkan program ini langsung kepada masyarakat. Konsep pengundian Simpeda tahun ini pun kami buka untuk umum.
Malam puncak pengundian dapat dihadiri secara gratis oleh seluruh masyarakat, baik yang sudah memiliki Tabungan Simpeda dan menjadi nasabah Bank Bengkulu maupun yang belum menjadi nasabah.
Program undian ini menjadi edukasi dan promosi?
Bagi masyarakat yang belum menjadi nasabah, ini menjadi kesempatan bagi kami untuk melakukan edukasi mengenai Tabungan Simpeda.
Kami juga mendatangkan artis nasional, Ungu Band. Selain itu, kami menyiapkan hadiah motor dan handphone bagi masyarakat yang hadir, salah satunya melalui mekanisme mengikuti akun Instagram Bank Bengkulu.
Tujuannya agar masyarakat datang dan kami bisa mengenalkan serta mengedukasi mereka mengenai Tabungan Simpeda.
Apakah strategi ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas basis nasabah?
Iya. Harapan kami, Tabungan Simpeda bukan hanya menjadi produk pelengkap bagi bank-bank daerah.
Harapan saya, produk ini bisa dikelola lebih masif dan menjadi produk andalan utama bank-bank daerah.
Kalau seluruh BPD menjadikan Simpeda sebagai produk utama, gebyarnya bisa lebih nasional. Mungkin ke depan bisa disiarkan secara rutin di televisi nasional, bukan hanya dalam skala lokal.
Karena itu, kami mulai mencoba membangun konsep tersebut. Selain membuka acara secara langsung untuk masyarakat umum, kami juga menyiarkannya melalui media lokal.
Bagaimana posisi Bank Bengkulu di pasar perbankan Provinsi Bengkulu saat ini?
Market share kami sekitar 30-35 persen.
Saat ini kami berada di posisi kedua. Posisi pertama masih ditempati BRI.
Bagaimana kinerja Bank Bengkulu pada semester I-2026?
Bank Bengkulu mencatatkan pertumbuhan kinerja yang cukup positif. Aset per Juni 2026 meningkat Rp973.1 miliar atau 9,66 persen secara year on year, dari Rp10,077 triliun menjadi Rp11,050 triliun.
Laba juga meningkat dari Rp54,55 miliar menjadi Rp71,2 miliar atau tumbuh 30,53 persen.
Kinerja tersebut disokong karena peningkatan pendapatan operasional dan efisiensi biaya. Pendapatan operasional meningkat Rp13 miliar, sementara biaya operasional berhasil ditekan hingga Rp21,7 miliar.
Dampaknya, rasio BOPO membaik dari 87,19 persen menjadi 80,44 persen.
Namun, dana pihak ketiga (DPK) turun dari Rp8,3 triliun menjadi Rp8,1 triliun karena kami memang melakukan strategi mengurangi dana mahal, terutama deposito.
Sedangkan kredit itu tumbuh sebanyak Rp295,9 miliar, dari sebelumnya Rp7,5 triliun menjadi Rp7,8 triliun.
Kemudian rasio-rasio keuangan juga membaik. CAR kita dari 24,72 persen menjadi 25,15 persen. ROE dari 7,74 persen menjadi 9,99 persen. ROA juga begitu, dari 1,26 persen menjadi 1,53 persen. NIM juga membaik dari 5,24 persen menjadi 5,85 persen.
Baca juga: Infobank Institute Bersama Bank Bengkulu Gelar Workshop Banking Outlook 2025
Apa tantangan Bank Bengkulu untuk menjadi pemimpin pasar di daerah sendiri?
Ya, ini menjadi tantangan juga bagi kami. Tantangannya adalah bagaimana kami bisa menjadi nomor satu di daerah sendiri.
Walaupun memang tantangannya cukup banyak. Salah satunya terkait keterbatasan fitur.
Kalau BRI, salah satu kekuatannya adalah memiliki BRImo dan berbagai layanan lainnya. Namun, kami juga memiliki peluang karena pemerintah daerah merupakan pemegang saham kami.
Wilayah ini adalah wilayah kami. Karena itu, kami harus bisa memanfaatkan kekuatan tersebut untuk terus meningkatkan posisi Bank Bengkulu di daerah sendiri. (*)
Editor: Wahyu Arip Oktapian


