Poin Penting
- Iran menolak usulan damai AS karena dinilai mengandung tuntutan yang berlebihan dan tidak dapat diterima
- Iran menegaskan fokus pada pencabutan sanksi, kontrol Selat Hormuz, dan pencairan aset beku dalam proposal negosiasi
- Iran menyatakan siap membuka medan pertempuran baru jika terjadi agresi militer lanjutan dari AS dan Israel.
Jakarta – Iran menolak usulan damai yang diajukan Amerika Serikat (AS) karena dinilai mengandung tuntutan yang berlebihan dan tidak seimbang.
Penolakan tersebut disampaikan melalui laporan sejumlah media pemerintah, di tengah upaya mediator memfasilitasi putaran baru perundingan antara kedua negara.
Menurut laporan Press TV, sikap Teheran menilai proposal Washington sebagai langkah yang tidak dapat diterima. Sementara itu, kantor berita ISNA sebelumnya melaporkan bahwa respons Iran terhadap usulan AS difokuskan pada upaya mengakhiri perang serta memastikan keamanan pelayaran di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tanggapan Iran terhadap proposal penghentian konflik tersebut tidak dapat diterima. Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump mengatakan, “Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘wakil’ dari Iran. Saya tak suka — BENAR-BENAR TAK DAPAT DITERIMA!,” dikutip 11 Mei 2026.
Di sisi lain, Press TV melaporkan bahwa respons Iran juga menekankan perlunya AS membayar kerugian perang kepada Teheran. Sebelumnya, pada awal Mei, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran mengonfirmasi telah menerima tanggapan AS terhadap usulan perdamaian 14 poin dari Iran melalui perantara Pakistan.
Baca juga: Selat Hormuz Kembali Normal usai Baku Tembak AS-Iran, Trump Ancam Serangan Baru
Iran Tekankan Pencabutan Sanksi dan Kontrol Selat Hormuz
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa usulan Iran untuk negosiasi lanjutan yang telah disampaikan ke Washington mencakup pencabutan sanksi, kontrol penuh Iran atas Selat Hormuz, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Proposal tersebut menjadi bagian dari upaya diplomatik yang dimediasi Pakistan.
Televisi nasional IRIB menyebutkan bahwa respons Iran berfokus pada penghentian perang yang disebut dimulai oleh AS dan Israel di berbagai front, khususnya Lebanon, serta memastikan keamanan jalur pelayaran.
Meski gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diberlakukan sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, serangan dan baku tembak dilaporkan masih terjadi.
Ketegangan meningkat setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Konflik tersebut memicu serangan balasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan. Perang juga berdampak pada penutupan Selat Hormuz, yang memiliki peran strategis bagi pelayaran internasional.
Iran Perkuat Strategi Militer dan Siap Hadapi Agresi
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei disebut mengumumkan langkah-langkah baru untuk menghadapi AS dan Israel dalam pertemuan dengan komandan Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi.
Laporan televisi pemerintah IRIB menyebut pertemuan tersebut sebagai laporan resmi pertama antara komandan dan pemimpin tertinggi.
Dalam pertemuan itu, Abdollahi memaparkan kesiapan pertahanan serta rencana strategis dan peralatan militer yang diperlukan untuk menghadapi potensi ancaman. Ia juga menegaskan kesiapan respons cepat terhadap setiap agresi.
Sementara Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menyatakan bahwa jika terjadi serangan ulang, Iran akan membuka metode perang baru. Ia mengatakan, “Jika musuh sekali lagi salah perhitungan dan memulai agresi terhadap Iran, mereka pasti akan menghadapi metode (perang) baru yang tidak terduga,” sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim. Ia menambahkan bahwa medan pertempuran dapat meluas ke wilayah yang tidak diperhitungkan musuh.
Selain itu, Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan kemungkinan serangan balasan terhadap kapal dan fasilitas militer AS di kawasan. Peringatan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi di media sosial.
Baca juga: Skandal Kehadiran Fiktif 3.000 ASN Brebes, Sanksi Bertingkat Menanti
Mediasi Pakistan dan Upaya Gencatan Senjata
Pada 7 April, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang difasilitasi Pakistan, sebelum kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan di Islamabad. Namun, perundingan tersebut belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Meski tidak ada laporan dimulainya kembali permusuhan setelah gencatan senjata, AS disebut melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sementara itu, para mediator masih berupaya mengatur putaran baru perundingan guna mencari solusi diplomatik permanen.
Presiden Trump sebelumnya memperpanjang gencatan senjata hingga waktu yang belum ditentukan, membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Namun, perbedaan posisi antara kedua pihak membuat proses negosiasi berjalan alot.
Di tengah dinamika diplomasi dan ketegangan militer yang masih berlangsung, posisi Iran tetap menuntut pendekatan yang dianggap adil dan seimbang dalam setiap proses perdamaian. Perkembangan perundingan lanjutan akan menjadi penentu arah konflik ke depan, sementara upaya mediasi terus diintensifkan oleh pihak-pihak terkait untuk mencegah eskalasi lebih lanjut antara Iran dan AS. (*)
Editor: Galih Pratama


