Poin Penting
- Trader aset RWA naik, dengan trader aktif tumbuh 18 persen dan transaksi 17 persen pada kuartal II 2026
- Token ETF AS melesat, dipimpin Nasdaq-100 dengan volume naik 115 persen
- Diversifikasi menguat, didorong minat pada ETF dan saham teknologi AS tertokenisasi.
Jakarta – Tren tokenisasi aset (real world asset/RWA) semakin menguat di kalangan investor aset digital di Indonesia. Kondisi ini juga didorong strategi investor yang ingin mendiversifikasi portofolio ke aset global.
Sepanjang kuartal II 2026, instrumen investasi berbasis token yang merepresentasikan aset dunia nyata, khususnya saham dan exchange traded fund (ETF) Amerika Serikat (AS), mencatatkan pertumbuhan. Baik dari sisi transaksi maupun jumlah pengguna.
Tren itu antara lain tercermin dari kinerja platform investasi kripto PINTU. Pada periode April-Juni 2026, jumlah trader aktif pada kategori aset tertokenisasi berbasis saham AS di platform ini meningkat 18 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/qoq).
Di periode yang sama, jumlah transaksi juga mengalami kenaikan 17 persen. Sedangkan volume perdagangan tercatat meningkat 11 persen.
Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, mengungkapkan, pertumbuhan itu menunjukkan bahwa investor tidak lagi hanya berfokus pada aset kripto konvensional. Mereka mulai memanfaatkan tokenisasi sebagai sarana memperoleh eksposur terhadap aset global dengan modal yang lebih terjangkau.
Baca juga: VPN hingga Kripto Jadi Tantangan OJK Berangus Judi Online
“Pertumbuhan yang merata di seluruh indikator utama pada kuartal II 2026 menunjukkan bahwa token berbasis aset dunia nyata, khususnya saham AS tertokenisasi, semakin menjadi pilihan sebagai bagian dari strategi diversifikasi investor dan trader kripto di Indonesia,” kata Andy dalam keterangan resmi, Jumat, 24 Juli 2026.
Salah satu pendorong utama pertumbuhan itu tidak lepas dari meningkatnya minat terhadap token ETF yang mengacu pada indeks saham AS. Token ETF Nasdaq-100 tercatat mengalmi lonjakan volume perdagangan hingga 115 persen secara kuartalan. Lonjakan itu juga dibarengi kenaikan jumlah trader aktif sebesar 196 persen.
Sementara, token ETF S&P 500 membukukan pertumbuhan volume transaksi sebesar 74 persen dan jumlah trader aktif meningkat 160 persen.
Kinerja itu dinilai menggambarkan bahwa semakin banyak investor baru yang memilih instrumen berbasis indeks sebagai strategi memperoleh eksposur terhadap pasar saham AS secara lebih terdiversifikasi, dibandingkan hanya berinvestasi pada satu emiten tertentu.
“Tersedianya beragam pilihan aset tertokenisasi berbasis saham dan ETF AS pada aplikasi PINTU mendorong ketertarikan yang lebih besar dari para trader terhadap kelas aset ini, di mana para investor dan trader dapat berinvestasi atau melakukan aktivitas trading pada aset ini mulai dari modal yang terjangkau,” lanjut Andy.
Minat investor yang lebih besar terhadap ETF indeks dibandingkan saham tunggal dinilai sebagai sinyal kematangan yang positif. Mereka tidak lagi sekadar mengejar satu nama populer, tapi mulai memanfaatkan tokenisasi untuk mendapatkan eksposur yang lebih terdiversifikasi dengan modal yang terjangkau.
Di luar ETF, saham-saham teknologi AS juga menjadi daya tarik baru bagi investor. Contohnya, token berbasis saham Apple (AAPLX) yang mencatatkan pertumbuhan volume perdagangan lebih dari dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Baca juga: Tak Hanya Developer, Industri Kripto Butuh Beragam Talenta Profesional
Kenaikan juga terjadi pada token berbasis saham Circle (CRCLX) sebesar 60 persen, Microsoft (MSFTX) sebesar 39 persen, serta token berbasis komoditas perak yang turut tumbuh 39 persen.
“Tren kuartal ini menegaskan bahwa ketersediaan pilihan aset RWA yang beragam, didukung dengan edukasi yang tepat, dapat mendorong adopsi RWA secara sehat,” imbuh Andy.
Meski begitu, Andy mengingatkan bahwa, aset tertokenisasi tetap memiliki risiko. Maka investor perlu mempelajari dan memahami sepenuhnya karakteristik, potensi imbal hasil, dan risiko masing-masing aset sebelum bertransaksi.
Sebagai informasi, saat ini ada 45 aset tertokenisasi berbasis saham dan ETF AS yang bisa diakses melalui aplikasi PINTU. (*) Ari Astriawan


