Poin Penting
- Data menunjukkan 81,6 persen pengguna kripto berasal dari Gen Z dan milenial usia 18–34 tahun, sementara sekitar 55 persen investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun
- Investor diharapkan memahami karakteristik instrumen, profil risiko, dan strategi pengelolaan portofolio, bukan hanya mengejar potensi keuntungan.
- PINTU memperluas edukasi investasi bagi generasi muda melalui kolaborasi dengan komunitas dan perguruan tinggi.
Jakarta – Dominasi generasi muda di pasar investasi Indonesia semakin menguat. Tidak hanya di pasar modal, tapi juga di aset kripto.
Kondisi ini membuat upaya mendorong peningkatan literasi keuangan semakin krusial, agar laju pertumbuhan investor dibarengi pemahaman soal risiko dan pengelolaan investasi.
Mengutip Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, yang disusun Indonesia Crypto Network (ICN), Coinvestasi, dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), sebanyak 81,6 persen pengguna aset kripto di Indonesia adalah kelompok Generasi Z dan milenial berusia 18–34 tahun.
Sedangkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, per April 2026, sekitar 55 persen dari total investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun. Adapun kelompok usia 31–40 tahun berkontribusi sekitar 25 persen.
Di sisi lain, tren tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Pertumbuhan investor pemula perlu diimbangi dengan peningkatan literasi agar keputusan investasi tidak semata didorong potensi keuntungan, tetapi juga pemahaman terhadap karakteristik instrumen, profil risiko, dan strategi pengelolaan portofolio.
Baca juga: VPN hingga Kripto Jadi Tantangan OJK Berangus Judi Online
Oleh sebab itu, platform investasi aset kripto PT Pintu Kemana Saja (PINTU) gencar memperluas program edukasi keuangan di kalangan generasi muda.
Terbaru, PINTU menggandeng Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Nagekeo Se-Jabodetabek (HIMAPEN), menggelar seminar “Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas”.
Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, menjelaskan berbagai pilihan instrumen investasi dan tren ekonomi keuangan digital kepada lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Menurut Andy, edukasi kepada generasi muda menjadi salah satu fokus PINTU karena kelompok ini sudah menjadi kontributor utama pertumbuhan investor di Indonesia.
“Kami berharap melalui diskusi bersama para praktisi, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai investasi, termasuk manfaat, risiko, dan perkembangan teknologi finansial,” jelas Andy dalam keterangan resmi, dikutip Kamis, 16 Juli 2026.
Andy menegaskan, program edukasi keuangan harus dilakukan secara berkelanjutan, agar masyarakat tidak hanya tertarik berinvestasi karena tren. Tapi benar-benar memiliki kemampuan mengambil keputusan dengan pemahaman yang memadai.
Terkait program literasi dan edukasi keuangan, lanjut Andy, PINTU akan terus memperluas kolaborasi dengan komunitas, perguruan tinggi, dan berbagai organisasi.
“Kami ingin semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, memahami investasi secara menyeluruh. Bukan hanya melihat potensi imbal hasil, tetapi juga memahami risiko sehingga dapat berinvestasi secara bertanggung jawab dan berorientasi jangka panjang,” lanjutnya.
Adapun seminar edukasi keuangan itu menghadirkan sejumlah praktisi dari berbagai sektor, seperti praktisi keuangan global Vier Abdul Jamal, Komisaris PT Adhikita Sekuritas Indonesia B. Hari Mantoro, dan Direktur Utama PT Smartin Advisor System Odang Supriatna.
Baca juga: Tak Hanya Developer, Industri Kripto Butuh Beragam Talenta Profesional
Sementara Ketua Umum HIMAPEN se-Jabodetabek Aster Leta mengungkapkan, seminar ini juga menjadi bagian dari upaya organisasi membekali mahasiswa dengan pengetahuan mengenai perkembangan teknologi finansial dan berbagai instrumen investasi.
“Mahasiswa perlu memahami bagaimana memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif, termasuk mengenali berbagai instrumen investasi beserta risikonya,” tutupnya. (*) Ari Astriawan


