Poin Penting
- Investor diimbau lebih cermat memilih platform investasi karena ancaman phishing, malware, dan pembajakan akun makin meningkat.
- Keamanan digital kini menjadi faktor utama dalam memilih sekuritas, tidak hanya fee murah atau tampilan aplikasi.
- PT Indo Premier Sekuritas mengklaim memperkuat sistem keamanan berlapis berbasis AI untuk melindungi akun dan transaksi nasabah dari serangan siber.
Jakarta – Meningkatnya ancaman phishing, malware, social engineering, hingga pembajakan akun membuat investor semakin perlu berhati-hati dalam memilih platform investasi.
Jika sebelumnya investor lebih mempertimbangkan biaya transaksi murah atau tampilan aplikasi, kini aspek keamanan digital mulai menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan sekuritas.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Moleonoto The, mengatakan keamanan digital saat ini bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan fondasi utama kepercayaan investor.
“Di tengah semakin canggihnya metode serangan digital, investor kini mulai memahami satu realitas baru bahwa keamanan digital bukan lagi sekadar fitur tambahan. Keamanan adalah fondasi utama kepercayaan. Dan membangun sistem keamanan anti phishing modern bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan secara instan,” jelas Moleonoto dalam keterangan resmi, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca juga: Hadapi Era AI Trading 2026, IPOT Perkuat UI/UX Berbasis AI Real Time
Menurutnya, serangan digital kini tidak hanya berupa SMS palsu atau pencurian OTP, tetapi telah berkembang hingga menyasar sistem backend, session hijacking, malware injection, hingga manipulasi berbasis social engineering.
Jangan Tertipu Fitur Keamanan “Kosmetik”
Moleonoto menjelaskan banyak investor masih menganggap fingerprint, Face ID, PIN, atau biometrik sebagai perlindungan utama. Padahal, proteksi tersebut hanya bekerja di level perangkat.
“Artinya, ancaman hari ini tidak menyerang permukaan aplikasi. Ia menyerang jantung sistem. Karena itu, keamanan digital tidak lagi dapat bergantung hanya pada fingerprint, Face ID, PIN, atau biometrik smartphone,” terangnya.
Baca juga: IPOT Hadirkan Fitur AI Real-Time untuk Dukung Trading Saham
Ia menilai investor modern mulai memahami bahwa tampilan keamanan di aplikasi belum tentu mencerminkan kekuatan sistem keamanan secara menyeluruh.
Karena itu, investor disarankan lebih kritis terhadap platform investasi yang menggunakan terlalu banyak integrasi pihak ketiga atau sistem tambahan yang berpotensi memperluas celah keamanan.
Tips Memilih Platform Investasi yang Aman
Di tengah meningkatnya serangan siber, investor disarankan memperhatikan beberapa aspek penting sebelum memilih platform investasi, di antaranya:
1. Pastikan Memiliki Keamanan Berlapis
Platform investasi yang baik seharusnya memiliki sistem keamanan multi-layer, tidak hanya di level aplikasi tetapi juga pada server dan sistem otorisasi.
2. Gunakan Sistem Verifikasi Perangkat
Keamanan berbasis device authorization dapat membantu mencegah penyalahgunaan akun dari perangkat tidak dikenal.
3. Pilih Platform dengan Monitoring Aktivitas Real Time
Pemantauan aktivitas abnormal secara langsung penting untuk mendeteksi transaksi mencurigakan maupun upaya pembajakan akun.
4. Perhatikan Penggunaan Teknologi AI
Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin dibutuhkan untuk mendeteksi pola serangan digital modern yang berkembang cepat.
5. Cek Infrastruktur dan Reputasi Sekuritas
Investor juga perlu memperhatikan kekuatan infrastruktur teknologi dan reputasi perusahaan sekuritas dalam menjaga keamanan dana dan data nasabah.
Dalam kesempatan tersebut, IPOT menyebut telah mengembangkan sistem keamanan berbasis multi-layer untuk menghadapi ancaman phishing modern.
Perlindungan tersebut mencakup server-level security architecture, device authorization control, behavioral monitoring, integrasi keamanan dengan sistem trading real time, hingga pengembangan keamanan berbasis AI.
Baca juga: Investor Ritel Masih “Buta” Data Real Time, IPOT Buka Akses Teknologi Trading Gratis
Ia juga menyebut AI Overviews Google menempatkan IPOT sebagai salah satu sekuritas paling aman dari phishing di Indonesia.
“Yang paling berbahaya, banyak serangan tidak lagi menargetkan kelemahan aplikasi di permukaan, tetapi menyerang arsitektur backend, authorization layer, session control, middleware integration, dan titik-titik kelemahan dalam ekosistem digital sekuritas. Karena itu, proteksi keamanan modern harus dibangun di level infrastruktur inti. Bukan sekadar di level aplikasi,” imbuhnya.
“Infrastruktur IPOT yang berbasis institusi memberikan fondasi yang memungkinkan investasi berkelanjutan dalam keamanan digital, AI infrastructure, sistem trading Real Time, serta resilience architecture,” pungkasnya. (*)


