Integrasi ATM Himbara Masih Terkendala

Integrasi ATM Himbara Masih Terkendala

Himbara Berminat Akuisisi Perusahaan Switching ATM
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Kementerian BUMN berharap integrasi ATM tetap tahun Ini.Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi perbankan. Ria Martati.

Jakarta- Sinergi antar bank pelat merah dalam sistem pembayaran dengan integrasi mesin ATM diharapkan tetap dimulai tahun ini. Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi dan Jasa Lain BUMN, Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan, Kementerian BUMN meminta Himpunan Bank-Bank Milik Negara ( HIMBARA) memperluas uji coba integrasi ATM tersebut.

“Tadinya masing-masing 50 ATM, kita minta masing-masing jadi 200, kalau memungkinkan dua minggu lagi saya rapat,” kata dia di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis 1 Oktober malam.

Sebelumnya,bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himbara itu mempertimbangkan untuk memiliki perusahaan switching ATM sendiri. Langkah itu untuk memuluskan rencana integrasi jaringan ATM Himbara yang ditargetkan kelar tahun ini.

Direktur PT Bank Tabungan Negara, Tbk (BTN), Sis Apik Wijayanto mengatakan, himpunan bank milik pemerintah mempertimbangkan dua alternatif dalam langkah integrasi tersebut. Pertama adalah joint operation ATM saja dan yang kedua adalah memiliki perusahaan switching bersama.Pembahasan mengenai rencana akuisisi menurutnya masih dilakukan secara intensif. Pasalnya, jika akan melakukan aksi korporasi dengan mengakuisisi perusahaan switching, perlu dilakukan pembahasan mengenai aspek legal di masing-masing bank.

“(Keputusannya) kayaknya gak bulan ini, tapi itu intensif karena kaitannya masalah hukum, dan masing masing perusahaan punya policy dan strategi sendiri apakah nantinya kalau kepemilikan harus masuk, strategic corporate-nya gimana, kalau masuk RBB (Rencana Bisnis Bank) gimana,” kata dia belum lama ini.

Menurut Gatot, untuk mengejar target integrasi ATM anggota Himbara  langkah yang paling memungkinkan adalah melakukan integrasi ATM terlebih dahulu baru kemudian melakukan operasional secara bersama melalui anak usaha bersama.

“Ya itu satu cost and benefit-nya masih kita hitung, dan kalau jadi, kira-kira ancang-ancangnya berapa juga belum, kalau jadi mau dimiliki ya valuation-nya belum. Yang masih dipikirkan joint operation atau kepemilikan, kalau kepemilikan ya masih detil hukumnya. Mungkin joint operation dulu jalan baru akuisisi,”tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]