Saat ini, ketersediaan rumah yang baru dapat dipenuhi hanya sekitar 400 ribu hingga 500 ribu unit. Akibatnya backlog akan terus naik. “Masih ada gap dan kekurangan lagi sebesar 400.000 ribu unit lagi setiap tahunnya, kalau tidak diatasi dan ditangani maka backlognya ini akan semakin tinggi,” ucap Lana.
Untuk mengatasi tantangan ini, kata dia, pemerintah telah memberikan fasilitas penyediaan rumah murah yang diperuntukkan bagi kalangan MBR. Hal ini tentunya sebagai bentuk dukungan dalam menyukseskan program sejuta rumah. Pemerintah juga menggandeng bank-bank dan developer untuk menyukseskan fasilitas rumah murah ini.
Baca juga: Pentingnya Ekosistem Perumahan untuk Kalangan MBR
“Sebagai dukungan program sejuta rumah pemerintah telah mengeluarkan fasilitas, seperti subsidi untuk pembiayaan rumah, likuiditas untuk perumahan, pembebasan pengenaan pajak nilai atau PPN, rusunami, dan juga prasarana untuk rumah sederhana tapak,” tukas Lana.
Dengan adanya program rumah murah ini, diharapkan masyarakat yang belum memiliki rumah khususnya masyarakat berpenghasilan rendah dapat mengambil dan memiliki rumah dengan uang muka (down payment/DP) dan angsuran yang sangat rendah dalam perbulannya. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Poin Penting IHSG melonjak 4,42% ke level 7.279, dengan mayoritas saham (623) ditutup menguat. Seluruh… Read More
Poin Penting: Biaya haji 2026 terancam naik signifikan akibat kenaikan harga avtur, asuransi, dan tekanan… Read More
Poin Penting Ancaman siber makin kompleks dan canggih (APT, AI, eksploitasi mobile), berdampak pada operasional,… Read More
Poin Penting SIPF belum memiliki payung hukum kuat, karena belum diatur dalam undang-undang meski risiko… Read More
Poin Penting Konflik Timteng memicu risiko gangguan infrastruktur digital global, termasuk data center dan jaringan… Read More
Poin Penting Kebocoran data masih terjadi karena penggunaan banyak tools keamanan yang tidak terintegrasi (silo),… Read More