Poin Penting
- Aktivitas transaksi tinggi menjelang Idulfitri 2026 memicu kenaikan laporan penipuan digital, terutama tiket murah, barang dengan harga miring, dan kendaraan bekas
- Modus Paling Sering – Pelaku menawarkan tiket perjalanan murah, barang palsu, dan kendaraan bekas dengan harga jauh di bawah pasar untuk memanfaatkan tingginya permintaan mudik
- Donasi dan THR Palsu – Penipuan juga terjadi lewat permintaan donasi atau bantuan sosial abal-abal, mengandalkan sentimen keagamaan dan emosi masyarakat untuk keuntungan signifikan.
Jakarta — Jelang periode Hari Raya Keagamaan, tren penipuan digital di Indonesia cenderung melonjak signifikan. Fenomena ini hampir kerap terjadi setiap tahun seiring melonjaknya aktivitas transaksi masyarakat menjelang perayaan Idulfitri 2026.
Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik di Kementerian Komunikasi dan Digital, Teguh Arifiyadi, mengatakan peningkatan laporan biasanya terjadi pada periode menjelang Lebaran dan libur panjang.
Menurut Teguh, masa tersebut merupakan salah satu periode dengan lonjakan pelaporan penipuan digital paling tinggi sepanjang tahun.
“Jelang Lebaran ini biasanya paling banyak laporan-laporan terkait dengan fraud atau scam seperti tiket murah, barang dengan harga miring hingga jual beli kendaraan bermotor,” ujar Teguh di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.
Modus Tiket Murah Paling Banyak Dilaporkan
Ia menjelaskan, salah satu modus yang paling sering muncul adalah penawaran tiket perjalanan dengan harga jauh di bawah pasar. Pelaku biasanya menawarkan tiket pesawat atau moda transportasi lain dengan dalih promo terbatas atau penjualan pribadi.
Baca juga: Penipuan Keuangan Meningkat saat Ramadan, OJK Beberkan Modusnya
Korban kerap tergiur karena harga yang ditawarkan terlihat lebih murah dibandingkan tarif resmi. Namun setelah pembayaran dilakukan, tiket yang dijanjikan tidak pernah dikirim atau ternyata tidak valid.
Modus ini memanfaatkan tingginya permintaan tiket transportasi saat musim mudik, ketika harga tiket resmi cenderung meningkat.
Selain tiket perjalanan, kata dia penipuan juga kerap terjadi melalui penawaran barang dengan harga yang tidak wajar. Produk yang ditawarkan beragam, mulai dari elektronik hingga barang kebutuhan Lebaran.
Dalam banyak kasus, barang yang ditawarkan ternyata palsu atau bahkan tidak pernah ada. Pelaku biasanya memanfaatkan platform media sosial atau situs jual beli daring untuk menjangkau calon korban.
Penipuan Jual Beli Kendaraan Bekas
Ia bilang, lonjakan transaksi juga terjadi pada pasar kendaraan bermotor bekas menjelang Lebaran. Banyak masyarakat membeli kendaraan second untuk kebutuhan mudik atau mobilitas selama libur panjang.
Baca juga: OJK Berhasil Kembalikan Rp167 Miliar Dana Korban Penipuan Digital
Situasi ini dimanfaatkan oleh pelaku penipuan dengan menawarkan kendaraan dengan harga jauh di bawah pasaran.
“Kadang selisihnya masih terlihat logis, misalnya selisih Rp50 juta sampai Rp60 juta. Tapi ternyata setelah ditransaksikan, kendaraannya tidak pernah ada,” ujar Teguh.
Modus Donasi dan THR Palsu
Lanjutnya, selain transaksi barang, modus lain yang juga meningkat adalah permintaan donasi atau bantuan sosial yang memanfaatkan sentimen keagamaan.
Pelaku biasanya mengatasnamakan yayasan sosial atau lembaga amal, seperti yayasan anak yatim, serta mengaitkannya dengan kegiatan zakat atau bantuan menjelang Lebaran.
Mereka sering menyampaikan kisah yang menyentuh secara emosional untuk memancing empati masyarakat.
Nominal yang diminta umumnya tidak besar, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Namun karena jumlah korban banyak, praktik tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan bagi pelaku.
“Mereka menjual emosi. Dan kita saat punya uang berpikir bahwa bulan Ramadan saat yang tepat untuk memberikan uang Rp10 ribu-Rp100 ribu. Tapi kalau dikali sekian korban itu banyak sekali,” bebernya.
Menurut Teguh, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan saat menerima tawaran transaksi atau permintaan donasi secara daring, terutama menjelang Lebaran ketika aktivitas ekonomi dan mobilitas menggeliat. (*)
Editor: Galih Pratama










