Poin Penting
- Inflasi Indonesia pada Mei 2026 naik menjadi 3,08 persen, didorong kenaikan harga pangan dan energi.
- Pemerintah menyiapkan operasi pasar, intervensi harga, dan stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat.
- Aktivitas ekonomi, manufaktur, serta kinerja ekspor dan neraca perdagangan masih menunjukkan tren positif.
Jakarta – Pemerintah berkomitmen menjaga laju inflasi tetap terkendali melalui berbagai langkah stabilisasi harga pangan dan perlindungan daya beli masyarakat di tengah gejolak ekonomi global serta tingginya harga minyak mentah dunia.
“Daya beli masyarakat terus didukung melalui berbagai kebijakan, seperti operasi pasar, intervensi harga, serta pengawasan distribusi untuk mencegah peningkatan volatilitas harga pangan,” kata Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Endang Larasati dalam keterangannya, Rabu, 3 Juni 2026.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan sejumlah stimulus ekonomi untuk menjaga konsumsi masyarakat, khususnya selama periode liburan sekolah. Program tersebut mencakup diskon transportasi, termasuk tiket pesawat, serta menjaga keterjangkauan harga BBM subsidi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen, meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,42 persen.
Kenaikan inflasi dipengaruhi seluruh komponen pembentuk inflasi, terutama kelompok volatile food yang mencapai 6,24 persen (yoy). Peningkatan ini dipicu kenaikan harga cabai merah dan bawang merah akibat penurunan produksi yang dipengaruhi cuaca ekstrem.
Baca juga: Breaking News! Indonesia Alami Inflasi 0,28 Persen pada Mei 2026
Sementara itu, inflasi kelompok administered prices meningkat menjadi 2,07 persen (yoy) akibat kenaikan tarif angkutan udara dan harga BBM nonsubsidi di tengah tingginya harga minyak dunia.
Adapun inflasi inti tercatat sebesar 2,59 persen (yoy), didorong kenaikan harga sejumlah produk elektronik sebagai dampak tekanan harga komoditas global.
Di sisi lain, harga emas perhiasan mengalami penurunan sehingga menyumbang deflasi secara bulan ke bulan. Pertumbuhan inflasi inti nonemas mencatat kenaikan dari 1,71 persen (yoy) pada April 2026 menjadi 1,91 persen (yoy).
Daya Beli dan Aktivitas Ekonomi Tetap Terjaga
Meski inflasi meningkat, sejumlah indikator menunjukkan kondisi ekonomi domestik masih cukup solid.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2026 tercatat sebesar 123,0, naik tipis dari 122,9 pada bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung oleh membaiknya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) menjadi 116,5, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap tinggi di level 129,6.
Baca juga: Permata Bank Ungkap Alasan Belum Tergesa Naikkan Bunga Kredit
Dari sisi aktivitas ekonomi, sejumlah indikator juga menunjukkan perbaikan setelah periode Lebaran. Penjualan mobil tumbuh 55 persen secara tahunan, penjualan sepeda motor naik 28,1 persen, konsumsi semen meningkat 35,6 persen, dan penjualan listrik tumbuh 19 persen.
“Perkembangan tersebut mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat dan aktivitas produksi domestik tetap terjaga,” ucap Endang.
PMI Manufaktur Kembali Ekspansif
Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi pada Mei 2026. Indeks PMI Manufaktur naik ke level 50,0 dari 49,1 pada April 2026.
Peningkatan permintaan domestik menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan pesanan baru dan perbaikan aktivitas produksi.
Baca juga: Kata Presiden, Rakyat Desa Tak Pakai Dolar AS: Tapi Diam-Diam Inflasi Mencopet Dompet Orang Desa
Sementara itu, aktivitas manufaktur sebagian besar negara mitra dagang utama menunjukkan kinerja yang resilien. Di kawasan ASEAN, PMI Manufaktur regional tercatat 51,5. India masih menjadi salah satu negara dengan ekspansi manufaktur terkuat di level 55,0; disusul Taiwan (56,1); Amerika Serikat (55,1); Jepang (54,5); dan Korea Selatan (54,8). Beberapa negara lain masih kontraktif, antara lain Malaysia (49,9); Myanmar (49,3); dan Prancis (49,7).
“Masih terjaganya ekspansi manufaktur di sebagian besar mitra dagang utama Indonesia menjadi sinyal positif bagi prospek permintaan eksternal ke depan, meskipun risiko dari tingginya biaya produksi dan ketidakpastian geopolitik global tetap perlu diperhatikan,” ungkapnya.
Ekspor Tetap Kuat, Neraca Dagang Surplus
Dari sisi eksternal, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD0,09 miliar pada April 2026.
Kinerja tersebut ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar USD3,53 miliar yang mampu menutup defisit neraca migas sebesar USD3,44 miliar. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Januari-April 2026 mencapai USD5,64 miliar.
Ekspor April 2026 tercatat sebesar USD25,30 miliar, didukung pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 23,36 persen secara tahunan. Kontributor utama berasal dari produk hilirisasi seperti lemak dan minyak hewani atau nabati, nikel dan turunannya, kendaraan bermotor, serta produk kimia.
“Kinerja ini menunjukkan bahwa penguatan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah berperan sangat penting dalam menjaga keberlanjutan ekspor Indonesia,” pungkasnya.
Baca juga: Ekspor Indonesia Capai USD92,15 Miliar hingga April 2026, Naik 5,48 Persen
Sementara itu, impor tumbuh 22,49 persen secara tahunan, terutama pada kelompok bahan baku dan barang modal yang mencerminkan berlanjutnya aktivitas produksi di dalam negeri. (*)
Editor: Yulian Saputra


