Poin Penting
- Indonesia mengalami deflasi 0,14 persen (mtm) pada Juli 2026, dipicu penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau
- Komoditas penyumbang deflasi terbesar berasal dari bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat
- Secara tahunan, inflasi tetap 2,88 persen (yoy), dengan pendorong utama kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada Juli 2026. Penurunan harga terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi pada Juli 2026.
“Adapun kelompok pengeluaran, pendorong deflasi bulanan ini terutama pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,89 persen. Dan kelompok tersebut memberikan andil deflasi sebesar 0,26 persen,” terang Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.
Baca juga: BTN Optimalkan Data BPS untuk Tingkatkan Akurasi Pembiayaan Perumahan
Ateng mengatakan, sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang deflasi pada kelompok tersebut antara lain bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat.
“Dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,11 persen, 0,06 persen, 0,06 persen, 0,03 persen, dan 0,03 persen,” sambungnya.
Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, deflasi bulanan terutama berasal dari komponen harga bergejolak (volatile food), yang mengalami deflasi sebesar 1,68 persen dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,28 persen.
Secara wilayah, deflasi terdalam terjadi di Provinsi Papua Pegunungan sebesar 1,37 persen. Sebaliknya, inflasi bulanan tertinggi tercatat di Provinsi Kalimantan Barat sebesar 0,38 persen. Dari total 38 provinsi, sebanyak 27 provinsi mengalami deflasi, sedangkan 11 provinsi mencatat inflasi.
Meski secara bulanan mengalami deflasi, secara tahunan atau year on year (yoy) Indonesia masih mencatat inflasi sebesar 2,88 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Juli 2025 yang sebesar 2,37 persen (yoy).
Menurut Ateng, inflasi tahunan terutama didorong oleh tiga kelompok pengeluaran, dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Inflasi tahun ini utamanya didorong oleh tiga kelompok. Yang pertama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 2,97 persen. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,87 persen,” beber Ateng.
Selain itu, inflasi juga dipicu oleh kelompok transportasi sebesar 0,62 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,61 persen. Ateng menambahkan, seluruh komponen pembentuk inflasi mengalami kenaikan harga.
Baca juga: DBS Ramal The Fed Tahan Suku Bunga Tahun Ini, Inflasi AS Masih Jadi Perhatian
Andil inflasi terbesar berasal dari komponen inti sebesar 1,76 persen, diikuti komponen harga yang diatur pemerintah sebesar 0,70 persen, dan komponen harga bergejolak sebesar 0,42 persen.
Pada tingkat provinsi, seluruh wilayah di Indonesia tercatat mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,47 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Papua Selatan sebesar 1,46 persen. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


