Poin Penting
- IHSG turun 2,03% ke 6.956,80 dan melemah 5,72% dalam lima hari terakhir.
- Stabilitas pasar dinilai bergantung pada kepastian kebijakan dan sinergi fiskal–moneter.
- Tekanan global, pelemahan rupiah, dan outflow asing jadi faktor utama volatilitas.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, ditutup melemah 2,03 persen ke level 6.956,80 dari posisi pembukaan 7.101,22. Dalam lima hari terakhir, indeks tercatat turun 5,72 persen berdasarkan data RTI Business.
Melihat hal itu, Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa pemulihan kepercayaan investor di tengah tingginya volatilitas global tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar.
“Faktor yang lebih penting adalah predictability kebijakan serta sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan energi,” ujar Rully dalam keterangan resmi dikutip, Kamis, 30 April 2026.
Baca juga: IHSG Ditutup Melemah 2 Persen Lebih, Terpeleset ke Zona Merah Jelang Libur May Day
Ia juga menyoroti bahwa kenaikan IHSG hingga sempat mencapai level tertinggi (all-time high/ATH) pada 2025 hingga awal 2026 tidak sepenuhnya ditopang fundamental ekonomi, melainkan dipengaruhi faktor teknikal terkait MSCI.
“Kondisi itu menciptakan diskoneksi antara pergerakan pasar saham dan kondisi makroekonomi riil sehingga membuat pasar lebih rentan ketika tekanan eksternal meningkat,” imbuhnya.
Tekanan Global dan Outflow Asing
Di sisi lain, pasar saat ini semakin tertekan oleh sentimen global yang terus meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah Brent dan pelemahan nilai tukar rupiah yang telah bergerak di kisaran Rp17.270-17.304 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (29/4).
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah Imbas Kekhawatiran Investor pada Prospek Perdamaian Timteng
Kemudian, jika dilihat dari data IHSG sejak awal tahun hingga 30 Maret 2026 telah mengalami pelemahan sebanyak 18,49 persen year-to-date (ytd). Investor asing juga terus mencatatkan outflow, dengan net foreign sell hingga 28 Maret 2026 secara ytd mencapai Rp32,9 triliun.
Peran Regulasi dan Sektor Tahan Banting
Rully menilai langkah Self-Regulatory Organization (SRO) dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham menjadi sentimen positif untuk memperkuat kepercayaan investor institusional asing dan MSCI terhadap pasar modal Indonesia.
Namun, ia menegaskan stabilitas jangka panjang tetap bergantung pada koordinasi kebijakan yang konsisten dan terintegrasi antarotoritas fiskal, moneter, dan energi.
Adapun, Mirae Asset menyoroti sektor manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling rentan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku berbasis plastik. Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi diperkirakan akan meningkatkan biaya produksi secara signifikan, terutama bagi sektor packaging dan industri turunannya.
Sebaliknya, sektor komoditas seperti emas, logam, dan pertambangan, serta sektor telekomunikasi, dinilai memiliki ketahanan lebih baik di tengah tekanan pasar saat ini. (*)
Editor: Yulian Saputra




