Poin Penting
- BEI minta investor tetap rasional di tengah koreksi IHSG yang telah turun 32,68 persen sejak awal 2026
- Fundamental emiten dinilai masih kuat, dengan laba perusahaan tercatat tumbuh lebih dari 21 persen pada 2025
- Investor diminta berpegang pada informasi akurat dan memperhatikan profil risiko sebelum berinvestasi.
Jakarta – Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, merespons keadaan pasar saham dalam dua hari terakhir yang mengalami koreksi cukup dalam.
Terpantau, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan 6,21 persen dalam lima hari perdagangan terakhir. Ditarik dari awal 2026, IHSG ambles 32,68 persen ke posisi terendahnya pada level 5.644,23.
Jeffrey mengingatkan kepada para investor untuk mengambil keputusan berinvestasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan menyesuaikan profil risiko masing-masing investor.
3 Hal Penting untuk Investor
Tidak hanya itu, Jeffrey juga menekankan tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam kondisi pasar saham seperti sekarang. Pertama, fundamental pasar saham Indonesia saat ini masih dalam kondisi baik.
“Ya, kalau kita mencermati dari laporan keuangan yang sudah disampaikan oleh seluruh emiten, per akhir tahun 2025 dari seluruh perusahaan tercatat itu membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen,” ucap Jeffrey kepada media di Jakarta, 4 Juni 2026.
Baca juga: IHSG Ambles, Dana Asing Kabur Tembus Rp67,06 Triliun
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pada kuartal I 2026, kinerja emiten, khususnya yang tergabung dalam indeks LQ45, menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih emiten LQ45 tercatat tumbuh 29,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
“Kemudian kalau kita lihat distribusi laba bersih per kuartal pertama tahun 2026, dari seluruh perusahaan tercatat yang ada, 80 persen membukukan laba bersih. Ini adalah persentase tertinggi lima tahun terakhir,” imbuhnya.
Menurut Jeffrey, tren tersebut mencerminkan semakin kuatnya profitabilitas perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia. Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63 persen emiten yang mencatatkan laba bersih. Sementara pada periode 2021 hingga 2025, proporsinya berada di kisaran 73-76 persen.
“Itu tentu menunjukkan bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini dalam kondisi baik. Tentu ini dapat dijadikan landasan untuk mengambil keputusan bagi para investor,” ujar Jeffrey.
Selain fundamental emiten, Jeffrey juga mengingatkan investor untuk mencermati sejumlah kebijakan yang masih diberlakukan Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satunya adalah kebijakan buyback saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang hingga kini masih berlaku.
Baca juga: IHSG Sentuh Level 5.644, Terendah dalam 5 Tahun Terakhir
Di samping itu, BEI juga masih menunda pelaksanaan short selling atau transaksi jual kosong. Kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas pasar di tengah dinamika yang terjadi.
Terakhir, yang tak kalah penting, lanjut Jeffrey, adalah memastikan setiap keputusan investasi didasarkan pada informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami tentu sangat berharap investor bisa mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat,” tutupnya. (*).
Editor: Galih Pratama


