Poin Penting
- IHSG sesi I ditutup anjlok 4,94 persen ke level 5.889,48 dengan 714 saham mengalami penurunan.
- Pelemahan rupiah di atas Rp17.900 per dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar.
- Sentimen penggeledahan kantor BGN terkait Program Makan Bergizi Gratis turut meningkatkan persepsi risiko investasi domestik.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I, Selasa (3/6), ditutup merosot 4,94 persen ke level 5.889,48 dari posisi sebelumnya 6.195,42.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih berada di zona negatif seiring sejumlah sentimen domestik yang membebani pasar. Padahal, inflasi Mei masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) dan neraca perdagangan April tetap mencatat surplus.
“Namun demikian kenaikan laju inflasi bulan Mei dan juga menyempitnya neraca perdagangan tersebut tentunya menekan daya beli dan juga ketahanan eksternal. Sehingga ini berdampak mendorong melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS yang yang sudah di atas Rp17.900 per dolar AS,” tulis Manajemen dalam risetnya di Jakarta, 3 Juni 2026.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.900 per Dolar AS, Ekonom Beberkan Pemicunya
Menurut Pilarmas, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.
Sentimen Penggeledahan BGN Tambah Kekhawatiran Investor
Selain faktor ekonomi, pasar juga mencermati penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Kejaksaan Agung terkait pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
“Kondisi ini tentunya akan memiliki dampak sensitif terhadap korupsi, hukum, dan bagimana tata kelola dan pertanggungjawab program MBG yang menggunakan dana besar dari APBN, sehingga ini akan berimplikasi meningkatnya persepsi risko investasi di dalam negeri,” imbuhnya.
Baca juga: Breaking News! Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Diganti Nanik Deyang
Pilarmas menilai isu tersebut berpotensi meningkatkan persepsi risiko investasi di Indonesia, terutama terkait tata kelola program pemerintah yang menggunakan anggaran besar.
Seluruh Sektor Terkoreksi
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan hari ini, sebanyak 26,37 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 1,79 juta kali. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp14,89 triliun.
Sebanyak 714 saham ditutup melemah, 35 saham menguat, dan 64 saham bergerak stagnan.
Baca juga: IHSG Ambruk 4 Persen Lebih, Tinggalkan Level 6.000, Analis Ungkap Penyebabnya
Tekanan jual terjadi di seluruh sektor. Sektor bahan baku mencatat penurunan terdalam sebesar 10,25 persen, disusul sektor energi 7,16 persen, infrastruktur 6,73 persen, transportasi 5,88 persen, industrial 5,63 persen, dan kesehatan 5,19 persen.
Selanjutnya, sektor properti turun 5,00 persen, sektor non-siklikal melemah 4,57 persen, sektor siklikal terkoreksi 3,96 persen, sektor keuangan turun 3,22 persen, dan sektor teknologi melemah 3,09 persen.
Bursa Asia Justru Menguat
Di tengah tekanan yang terjadi di pasar domestik, mayoritas bursa saham Asia bergerak positif. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 2,95 persen, Shanghai Composite menguat 0,47 persen, dan Hang Seng melonjak 1,84 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra


