Poin Penting
- IHSG diproyeksikan bergerak konsolidasi pada kisaran 6.100-6.250.
- Investor menanti keputusan MSCI terkait status Indonesia di pasar berkembang.
- Data inflasi AS dan perkembangan konflik Iran-AS menjadi sentimen global utama
Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini secara teknikal akan bergerak konsolidasi di rentang 6.100-6.250.
“Secara teknikal IHSG pada pekan ini diperkirakan konsolidasi pada kisaran 6.100-6.250,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.
Baca juga: Ini 5 Saham Pendorong Menguatnya IHSG dalam Sepekan
Dari domestik, investor akan mencermati data M2 Money Supply yang dijadwalkan rilis pada 23 Juni 2026. Selain itu, investor juga menantikan pengumuman MSCI terkait Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 yang akan menentukan status Indonesia di Emerging Market.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana bertemu dengan MSCI untuk mengklarifikasi hasil MSCI Global Market Accessibility Review yang memberikan penilaian negatif terhadap kriteria Information Flow.
Sentimen Global Masih Dibayangi Ketegangan Timur Tengah
Dari pasar global, Bursa Wall Street sempat ditutup pada 19 Juni 2026 karena libur Juneteenth. Sementara itu, mayoritas indeks saham di Eropa dan Asia berakhir di zona merah pada hari yang sama seiring keraguan investor terhadap keberlangsungan kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Wakil Presiden AS menyatakan bantuan ekonomi kepada Iran akan bergantung pada kepatuhan negara tersebut terhadap ketentuan dalam perjanjian yang telah disepakati.
Baca juga: Iran Gratiskan Biaya Melintas di Selat Hormuz Selama 60 Hari
Sementara itu, Presiden Iran menggambarkan kesepakatan tersebut bersifat bersyarat dan menyetujui memorandum hanya setelah memperoleh jaminan bahwa hak-hak Iran akan tetap dilindungi.
Perhatian investor juga tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz. Pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut sempat menjadi sentimen positif setelah AS dan Iran sepakat mencabut blokade. Namun, Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 19 Juni 2026 dengan alasan sejumlah syarat dalam kesepakatan damai belum dipenuhi.
Data Inflasi AS Jadi Perhatian Pasar
Selain perkembangan geopolitik, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, seperti indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), durable goods orders, indeks sentimen konsumen Universitas Michigan, serta survei regional Federal Reserve.
Indeks PCE inti diperkirakan meningkat 0,3 persen secara bulanan (month-on-month/MoM) pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2 persen MoM pada April.
Baca juga: IHSG Sepekan Menguat 2,82 Persen, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.788 Triliun
Sebelumnya, Federal Reserve telah menaikkan proyeksi inflasi PCE 2026 menjadi 3,6 persen. Sementara untuk tahun depan, inflasi diperkirakan berada di level 2,3 persen. Proyeksi inflasi inti PCE juga direvisi naik menjadi 3,3 persen pada tahun ini. (*)
Editor: Yulian Saputra


