Poin Penting
- IHSG diproyeksi bergerak 7.500–7.600; secara teknikal didukung MACD positif, namun Stochastic RSI sudah overbought sehingga ruang kenaikan terbatas jika tidak bertahan di atas 7.500
- Sentimen domestik positif dari pertumbuhan penjualan ritel 6,5 persen yoy (Februari 2026), tertinggi sejak Maret 2024, didorong momentum Ramadan dan Idulfitri.
- Dinamika eksternal & aliran dana: isu kerja sama energi Indonesia–Rusia jadi perhatian, sementara investor asing terus keluar dari SBN, digantikan peningkatan kepemilikan bank domestik.
Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini (14/4) secara teknikal akan bergerak di rentang level 7.500-7.600.
“Secara teknikal, indikator MACD berlanjut membentuk histogram positif, namun Stochastic RSI berada di area overbought. Jika IHSG mampu bertahan di atas level 7.500, diperkirakan berpotensi menguji level 7.600,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 14 April 2026.
Diketahui, IHSG ditutup menguat pada level 7.500,19 atau naik 0,56 persen pada perdagangan kemarin (13/4), setelah sempat bergerak di teritori negatif di awal perdagangan.
Baca juga: Pasar Saham Bergejolak, Bagaimana Dampaknya ke Produk Unitlink?
Sentimen dari domestik, data penjualan ritel domestik tumbuh 6,5 persen year-on-year di Februari 2026 dari 5,7 persen yoy di Januari 2026, serta lebih tinggi dari perkiraan yang sebesar 5,9 persen yoy.
Pertumbuhan ini merupakan yang tercepat sejak Maret 2024, yang didorong oleh kenaikan belanja masyarakat di Ramadan dan menjelang Idulfitri.
Sementara itu, Presiden Prabowo berkunjung ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin (13/4).
Pertemuan tersebut antara lain akan membahas kelanjutan kerja sama kedua negara, termasuk mengenai penguatan pasokan minyak ke Indonesia di tengah konflik di Timur Tengah saat ini.
Lalu, berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, investor asing terus keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) terutama dalam setahun terakhir.
Baca juga: Resmi! BRI Bagikan Dividen Rp52,1 Triliun, Cek Nilai per Sahamnya
Hingga 8 April 2026, kepemilikan SBN oleh investor asing mencapai Rp857,60 triliun atau setara 12,60 persen dari total SBN yang diperdagangkan, turun dari Rp893,47 triliun atau setara 14,34 persen pada 8 April 2025.
Sebaliknya, pada periode yang sama, kepemilikan SBN oleh bank domestik semakin meningkat, yaitu dari 18,37 persen menjadi 23,58 persen. Hal ini didorong oleh penempatan dana pemerintah di perbankan yang mencapai Rp300 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama







