Poin Penting
- IHSG anjlok 2,86 persen ke 6.969,39 akibat sentimen global, konflik AS-Iran, dan rencana kenaikan royalti komoditas
- Sebanyak 575 saham melemah, dengan sektor bahan baku, transportasi, dan energi mencatat koreksi terdalam
- Nilai transaksi mencapai Rp36,09 triliun, sementara saham BUMI, KOTA, dan DEWA paling aktif diperdagangkan.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026 ditutup merosot ke posisi 6.969,39 atau anjlok 2,86 persen dari level 7.174,32.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut, pelemahan indeks disebabkan oleh sejumlah faktor negatif, di antaranya koreksi indeks di bursa global akibat memanasnya kembali konflik Amerika Serikat (AS)-Iran, serta adanya usulan royalti sejumlah komoditas logam, meliputi nikel, tembaga, emas, perak, dan timah.
Selain itu, pemerintah juga berencana menaikkan tarif royalti progresif pada mayoritas komoditas. Tercatat, data cadangan devisa Indonesia turun menjadi USD146,2 miliar di April 2026 dari USD148,2 miliar di Maret 2026.
Level cadangan devisa pada April 2026 ini merupakan terendah sejak Juli 2024, namun masih mencukupi untuk 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang.
Baca juga: Rencana Bunga KUR 5 Persen, Katalis atau Tekanan bagi Saham Bank Himbara?
575 Saham Terkoreksi
Berdasarkan statistik RTI Business, pada perdagangan hari ini tercatat 575 saham terkoreksi, 133 saham menguat, dan 108 saham tetap tidak berubah.
Sebanyak 56,34 miliar saham diperdagangkan dengan 2,82 juta kali frekuensi perpindahan tangan, serta total nilai transaksi Rp36,09 triliun.
Lebih lanjut, seluruh indeks dalam negeri juga bergerak turun, dengan LQ45 -2,39 persen ke 677,18, IDX30 -2,13 persen jadi 380,55, Sri-Kehati -1,81 persen ke 334,46, dan JII -4,50 persen menjadi 451,23.
Lalu, hampir seluruh sektor terpantau bergerak merah, dengan sektor bahan baku melemah paling dalam -7,80 persen, sektor transportasi -5,72 persen, sektor energi -4,59 persen, sektor industrial -4,55 persen, dan sektor siklikal -3,39 persen.
Selanjutnya, sektor properti -2,66 persen, sektor non-siklikal -2,11 persen, sektor teknologi -1,91 persen, sektor keuangan -1,48 persen, dan sektor infrastruktur -0,32 persen.
Sedangkan, hanya sektor kesehatan yang mengalami penguatan 0,70 persen.
Baca juga: Ada Wacana Bunga KUR 5 Persen, Valuasi Saham Bank Himbara Terancam Terkoreksi?
Saham Top Gainers dan Losers
Sederet saham top gainers di antaranya adalah PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).
Sedangkan saham top losers adalah PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP).
Adapun, tiga saham teratas yang paling sering diperdagangkan, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT DMS Propertindo Tbk (KOTA), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). (*)
Editor: Galih Pratama


