Poin Penting
- Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak di kisaran 6.080-6.250 pada perdagangan 28 Juli 2026
- Pengunduran diri Perry Warjiyo sempat menekan sentimen pasar, namun penunjukan Destry Damayanti sebagai Plt Gubernur BI dinilai menjaga optimisme terhadap stabilitas moneter
- Investor menanti penunjukan Gubernur BI definitif serta perubahan konstituen LQ45, IDX30, IDX80, dan Kompas100 yang berlaku mulai 3 Agustus 2026.
Jakarta – Phintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak konsolidatif pada perdagangan Selasa (28/7), dengan rentang pergerakan di level 6.080 hingga 6.250.
“Diperkirakan IHSG akan cenderung berkonsolidasi pada kisaran 6.080-6.250 pada perdagangan Selasa (28/7),” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 28 Juli 2026.
Pada perdagangan sebelumnya, Senin (27/7), IHSG ditutup melemah 0,17 persen ke level 6.185,78. Secara teknikal, histogram positif MACD kembali menyempit dan Stochastic RSI melanjutkan pelemahan di area pivot. Meski demikian, IHSG masih mampu bertahan di atas level MA20 dan MA50.
Baca juga: Daftar 5 Saham Penopang Penguatan IHSG Sepekan
Dari sisi domestik, pasar masih mencermati pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang sempat memicu sentimen negatif.
Pergantian kepemimpinan dinilai meningkatkan ketidakpastian pasar dalam jangka pendek, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan potensi kenaikan suku bunga.
“Namun penunjukan Destry Damayanti sebagai Plt Gubernur BI memberi optimisme pasar akan komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada proses penunjukan Gubernur BI definitif. Pelaku pasar berharap figur yang dipilih mampu menjaga kesinambungan kebijakan serta memastikan proses transisi kepemimpinan berjalan mulus.
Selain itu, kredibilitas dan independensi BI sebagai bank sentral dinilai tetap menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas kebijakan moneter serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca juga: Investor RI Makin Minati Tokenisasi Aset Berbasis Saham AS, Ini Buktinya
Sebaliknya, apabila terjadi perubahan signifikan dalam arah kebijakan moneter atau muncul kekhawatiran terhadap independensi bank sentral, kondisi tersebut berpotensi memicu pelemahan rupiah lebih lanjut, meningkatkan volatilitas pasar obligasi pemerintah, serta menjadi sentimen negatif bagi saham-saham sektor perbankan.
Di sisi lain, investor juga akan mencermati perubahan konstituen indeks LQ45, IDX30, IDX80, dan Kompas100 yang mulai berlaku pada periode 3 Agustus hingga 30 Oktober 2026. (*)
Editor: Galih Pratama


