Poin Penting
- Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak mixed di kisaran 5.900-6.000 pada perdagangan hari ini, ditopang kenaikan cadangan devisa dan usulan pengurangan anggaran MBG 2027
- Kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi USD145,6 miliar pada Juni 2026 menjadi sentimen positif bagi pasar, meski proyeksi defisit APBN yang melebar berpotensi menekan IHSG
- IHSG diperkirakan bergerak variatif seiring sentimen positif dari cadangan devisa dan fiskal, namun dibayangi proyeksi defisit APBN 2026 yang diperkirakan melampaui target pemerintah.
Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini (8/7) secara teknikal akan bergerak variatif.
“Diperkirakan IHSG berpotensi bergerak mixed pada kisaran 5.900-6.000,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 8 Juli 2026.
Menurut analis Phintraco Sekuritas, ada sejumlah sentimen yang bakal memengaruhi pasar saham hari ini. Sentimen positif datang dari usulan DPR yang mengurangi anggaran Program MBG untuk tahun 2027 dan data cadangan devisa Juni 2026 yang mengalami kenaikan dari level terendah selama dua tahun terakhir.
Baca juga: Resmi Melantai di Bursa, Harga Saham JELI dan JECX Kompak ARA
Cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi USD145,6 miliar pada Juni 2026 dari USD144,9 miliar di Mei 2026.
Peningkatan moderat ini terutama didukung oleh penerimaan pajak dan jasa, yang lebih dari cukup untuk mengimbangi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah-langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia.
Posisi cadangan devisa ini setara dengan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Sentimen lainnya berasal defisit APBN pada semester I 2026 yang tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, Menteri Keuangan memproyeksikan defisit APBN 2026 dapat mencapai Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen dari PDB, lebih tinggi dibandingkan target yang sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.
Baca juga: Usai IPO, JECX Targetkan Laba Bersih Tumbuh 10 Persen pada 2026
Meski penerimaan pajak diproyeksikan tumbuh 20,5 persen, pemerintah akan berupaya mempertahankan pertumbuhannya di kisaran 23 persen tanpa menaikkan tarif maupun menambah jenis pajak baru.
Belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN. Proyeksi defisit APBN yang lebih lebar dari target tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. (*)
Editor: Galih Pratama


