Poin Penting
- IHSG diperkirakan menguji level MA20 di 6.525.
- Jika menembus level tersebut, IHSG berpeluang menguji support 6.400-6.460.
- IHSG kemarin ditutup turun 1,33 persen ke level 6.589,34.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Jumat (11/9), diperkirakan menguji level MA20 di 6.525.
Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebutkan, jika IHSG menembus level tersebut, indeks berpeluang melanjutkan penurunan dan menguji area support 6.400-6.460.
“Diperkirakan IHSG akan menguji level MA20 di 6.525. Jika break dari level tersebut, berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.400-6.460,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Baca juga: IHSG Diprediksi Bergerak Variatif, 4 Saham Ini Direkomendasikan
Pada perdagangan Kamis (10/9), IHSG ditutup melemah 1,33 persen ke level 6.589,34. Padahal, indeks sempat menguat hingga level 6.712.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi data penjualan ritel. Penjualan ritel Indonesia pada Juli 2026 tumbuh 1,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), setelah mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut.
Pemulihan tersebut terutama didorong oleh kenaikan penjualan makanan, minuman dan tembakau serta pakaian. Namun, pertumbuhan penjualan suku cadang otomotif melambat.
Baca juga: IHSG Hari Ini (10/9) Anjlok 1,33 Persen, 516 Saham Berakhir di Zona Merah
Di sisi lain, penjualan bahan bakar, peralatan komunikasi, dan produk rekreasi masih turun. Kondisi ini menunjukkan masyarakat masih lebih banyak mengalokasikan belanja untuk kebutuhan konsumsi pokok.
Secara bulanan, penjualan ritel pada Agustus 2026 turun 0,1 persen (month-to-month/MoM), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 0,7 persen.
Defisit APBN Jadi Perhatian
Phintraco Sekuritas juga menyoroti kondisi fiskal. Defisit APBN hingga Juli 2026 mencapai Rp235,6 triliun atau sekitar 0,91 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Pada periode yang sama, belanja negara mencapai Rp1,96 triliun atau meningkat 18,62 persen secara tahunan.
Dengan defisit hingga Juli tersebut, pemerintah dinilai masih memiliki ruang fiskal yang cukup karena target defisit APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85 persen dari PDB.
Namun, risiko pelebaran defisit tetap perlu diperhatikan jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama. Risiko tersebut juga dapat meningkat apabila pemerintah tidak mengelola anggaran secara efisien. (*)
Editor: Yulian Saputra


