Poin Penting
- IHSG diproyeksikan bergerak di rentang 6.370-6.430 dengan level support 6.370 dan resistance 6.430
- BI mempertahankan BI-Rate 5,75 persen, sementara pertumbuhan kredit Juli 2026 melonjak 13,58 persen yoy, menjadi katalis positif bagi pasar
- Wall Street ditutup menguat setelah US Treasury memperluas program buyback surat utang jangka panjang, meredam kenaikan yield obligasi 30 tahun AS.
Jakarta – Investment Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini (20/8) secara teknikal berpeluang bergerak di rentang 6.370-6.430.
“Untuk perdagangan hari ini, IHSG diproyeksikan akan menguji level support di 6.370 dengan area resistance terdekat berada di level 6.430,” ucapnya dalam riset harian di Jakarta, 20 Agustus 2026.
Sentimen IHSG Hari Ini
Ada sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG hari ini. Salah satunya datang dari penutupan perdagangan IHSG kemarin yang ditutup terkoreksi 0,86 persen, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.490 mendekati area resistance kuat 6.500.
Baca juga: Prodia Siapkan Rp150 Miliar untuk Buyback Saham
Di sisi makroekonomi, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen pada RDG Agustus.
Katalis positif tercermin dari pertumbuhan kredit Indonesia periode Juli 2026 yang melonjak 13,58 persen yoy, mencatatkan laju pertumbuhan tertinggi sejak Agustus 2014 berkat optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Adapun, indeks utama bursa Wall Street ditutup kompak menguat, dipimpin oleh NYSE Composite yang naik 0,32 persen, Dow Jones menguat 0,22 persen, S&P 500 meningkat 0,21 persen, dan Nasdaq naik 0,16 persen.
Baca juga: Begini Prospek Saham BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI di Semester II 2026
Penguatan pasar ekuitas AS ditopang oleh langkah Departemen Keuangan AS (US Treasury) yang mengumumkan perluasan program buyback surat utang jangka panjang (tenor 10 hingga 30 tahun) hingga dua kali lipat guna menjaga likuiditas pasar.
Kebijakan ini berhasil meredam lonjakan yield obligasi 30 tahun yang sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007, sehingga imbal hasilnya terkoreksi hingga 9 basis poin ke level 5,19 persen dan memberikan angin segar bagi pasar saham. (*)
Editor: Galih Pratama


