Poin Penting
- Pada perdagangan hari ini IHSG dibuka turun 0,20 persen ke level 5.872,01 dengan mayoritas saham terkoreksi.
- Phintraco memperkirakan IHSG menguji level 5.750 setelah anjlok 3,56 persen pada perdagangan sebelumnya.
- Turunnya peringkat daya saing Indonesia dan sentimen MSCI masih membayangi pergerakan pasar.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan hari ini Kamis, 25 Juni 2026 pukul 09.00 WIB kembali dibuka melemah ke level 5.872,01 atau turun 0,20 persen dari posisi 5.883,88.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham tersebut, sebanyak 436,20 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 45 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp294,38 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 207 saham terkoreksi, 178 saham menguat, dan 211 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: IHSG Masih Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan 4 Saham Ini
Analis Phintraco Sekuritas, sebelumnya memprediksi bahwa IHSG untuk pekan ini secara teknikal diprediksi akan bergerak untuk menguji level psikologis 5.750.
“IHSG berpeluang uji level 5.750 pada perdagangan Kamis (25/6),” ucap Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, 25 Juni 2026.
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah ke level 5.883,88 atau turun 3,56 persen. Sentimen negatif berasal dari peringatan MSCI, koreksinya harga komoditas logam, dan penguatan dolar AS.
Meski demikian, dengan adanya koreksi harga minyak diperkirakan dapat berpotensi menjadi faktor positif karena mengurangi tekanan pada defisit APBN.
Sentimen lainnya datang dari peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026 turun signifikan dari posisi 40 menjadi 48.
Baca juga: Direktur REAL Borong 2 Juta Saham, Sinyal Bullish bagi Investor?
Menanggapi penurunan tersebut, pemerintah menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk melalui tim debottlenecking untuk mengidentifikasi berbagai hambatan yang memengaruhi iklim investasi dan daya saing nasional.
Jika kendala tersebut tidak segera diperbaiki dan daya saing Indonesia tidak meningkat, maka berpotensi akan berpengaruh terhadap iklim investasi dan perdagangan yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. (*)
Editor: Galih Pratama


