Poin Penting
- Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG menguji support 6.200-6.250 jika turun di bawah MA5 6.280, dipicu kenaikan harga minyak
- Likuiditas M2 tumbuh 8,7 persen yoy pada Juni 2026, melambat dari Mei, sementara pertumbuhan kredit meningkat menjadi 12,67 persen yoy
- S&P menilai depresiasi mata uang menjadi risiko bagi korporasi Asia, terutama emiten dengan eksposur valas tinggi dan importir.
Jakarta – Phintraco Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi mengalami tekanan pada perdagangan hari ini, Kamis (24/7).
Secara teknikal, IHSG diproyeksikan menguji area support di kisaran 6.200-6.250 apabila gagal mempertahankan level MA5.
“Berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah diperkirakan akan menjadi faktor negatif. Diperkirakan jika IHSG breakdown dari level MA5 di sekitar 6.280, maka berpotensi uji level support berikutnya di 6.200-6.250,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 22 Juli 2026.
Baca juga: Investor Global Kembali Borong Saham RI, Valuasi Murah Jadi Magnet
Dari dalam negeri, sentimen datang dari likuiditas perekonomian. Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 mencapai Rp10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Meski tetap meningkat, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan 10,8 persen pada Mei 2026.
Pertumbuhan M2 ditopang oleh uang beredar sempit (M1) yang naik 9,8 persen serta uang kuasi yang tumbuh 6,9 persen. Kondisi tersebut mencerminkan likuiditas di dalam negeri masih bertambah, meski dengan laju yang lebih moderat. Di sisi lain, pertumbuhan kredit justru meningkat menjadi 12,67 persen yoy pada Juni 2026.
Sementara dari eksternal, perhatian pasar tertuju pada laporan S&P yang menilai depresiasi mata uang menjadi tantangan bagi korporasi di Asia, termasuk Indonesia.
Menurut lembaga pemeringkat tersebut, pelemahan mata uang dapat memberikan keuntungan bagi eksportir, tetapi berpotensi menekan kinerja importir yang tidak mampu sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
S&P mengelompokkan 69 emiten korporasi dan infrastruktur yang diperingkat secara publik di Indonesia, India, dan Korea ke dalam empat kategori berdasarkan tingkat eksposur terhadap ketidaksesuaian mata uang pada operasional maupun neraca keuangan.
Baca juga: Mirae Asset Pangkas Target IHSG 2026 jadi 6.800, Ini Saham Pilihannya
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa sebagian kecil emiten memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap depresiasi mata uang akibat ketidaksesuaian valuta asing pada sisi operasional dan pembiayaan.
Secara historis, S&P menilai depresiasi mata uang yang tajam turut mengurangi kemauan emiten berperingkat spekulatif dalam memenuhi kewajiban keuangannya. (*)
Editor: Galih Pratama


