Poin Penting
- IHSG dibuka bergerak dua arah dan sempat menguat ke level 5.652,66.
- Nilai transaksi awal perdagangan mencapai Rp252,09 miliar.
- Pelaku pasar mencermati data inflasi, neraca dagang, dan stimulus ekonomi pemerintah.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan Rabu (1/7) pukul 09:00 WIB dibuka bergerak dua arah, setelah sebelumnya sempat turun ke posisi 5.638,52, lalu menguat 0,17 persen ke level 5.652,66.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan tersebut, sebanyak 228,37 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 33 ribu kali. Total nilai transaksi mencapai Rp252,09 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 146 saham terkoreksi, 209 saham menguat dan 235 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: IHSG Diprediksi Masih Rawan Koreksi, 4 Saham Ini Direkomendasikan
Manajemen Phintraco Sekuritas, sebelumnya memprediksi bahwa IHSG untuk pekan ini secara teknikal diprediksi akan bergerak untuk menguji level 5.500.
“IHSG diperkirakan berpotensi akan menguji level 5.500,” kata Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Pada perdagangan Selasa (30/6), IHSG ditutup melemah 3,05 persen ke level 5.643,19. Semua sektor mencatatkan penurunan, dengan pelemahan terdalam terjadi pada sektor basic materials yang turun 5,54 persen.
“Secara teknikal, histogram positif MACD mengecil dan berpotensi terjadi Death Cross. Stochastic RSI berada di area pivot dan masih melanjutkan ke arah bawah,” imbuhnya.
Pasar Menanti Data Inflasi dan Neraca Dagang
Lalu dari sentimen domestik, data inflasi Indonesia menurut konsensus diperkirakan meningkat menjadi 0,29 persen MoM dan 3,2 persen YoY di Juni 2026 (1/7) dari level 0,28 persen MoM dan 3,08 persen YoY pada Mei 2026.
Kenaikan inflasi ini diperkirakan dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026. Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 2,6 persen YoY pada Juni 2026 dari 2,59 persen YoY pada bulan sebelumnya.
Baca juga: IHSG Melemah, Saham Bank Ini Dinilai Masih Menarik
Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia menurut konsensus diperkirakan mencapai USD1,1 miliar pada Mei 2026 (1/7), meningkat dari USD90 juta pada April 2026. Pertumbuhan ekspor diproyeksikan sebesar 4 persen YoY, sedangkan impor diperkirakan tumbuh 18 persen YoY.
Stimulus Ekonomi Jadi Sentimen Positif
Pemerintah juga menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun yang akan mulai digulirkan pada semester II 2026
Paket tersebut mencakup diskon tarif kereta api dan kapal laut Pelni sebesar 30 persen selama libur sekolah serta libur Natal dan Tahun Baru, pembebasan tarif jasa kepelabuhan untuk transportasi penyeberangan, bantuan pangan bagi 33.24 juta penerima manfaat selama Juli-September 2026, serta pembukaan program magang nasional.
Baca juga: Akhir Juni, IHSG Masih Ditutup Merah pada Level 5.643
Selain itu, pemerintah memberikan fasilitas bea masuk 0 persen atas impor LPG bagi industri petrokimia dan bahan baku plastik, serta menetapkan tarif khusus PPh final sebesar 1,5 persen bagi para penulis. (*)
Editor: Yulian Saputra


