Poin Penting
- Defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen PDB, masih jauh di bawah batas 3 persen.
- Ekonom HSBC optimistis pemerintah mampu menjaga defisit, didukung kinerja penerimaan pajak yang kuat dan implementasi coretax
- Efisiensi anggaran, termasuk penyesuaian program MBG, diperkirakan memberi penghematan hingga 1–5 persen PDB dan membantu menjaga defisit tetap terkendali.
Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan kembali menegaskan komitmennya menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Hingga kuartal I 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen dari PDB.
Meski lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, posisi tersebut dinilai masih cukup aman dan jauh dari ambang batas yang ditetapkan.
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, pun menyampaikan optimismenya terhadap kemampuan pemerintah dalam mengendalikan defisit fiskal.
“Tidak akan mudah sama sekali, tapi saya pikir pemerintah akan berusaha keras untuk mempertahankannya (nilai defisit fiskal), karena mereka telah mengatakannya dan mereka telah berkomitmen ke pasar,” ujar Pranjul dalam acara online media briefing HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Kamis, 23 April 2026.
Baca juga: Wamenkeu Beberkan Resep Jaga Defisit APBN di Bawah 3 Persen
Pranjul menjelaskan, keyakinan tersebut ditopang oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah implementasi sistem coretax yang dinilai sudah berjalan lebih stabil dan efektif dalam mendorong penerimaan negara.
Hal ini tercermin dari kinerja pendapatan pajak pada dua bulan pertama tahun 2026 yang disebutnya cukup solid, sehingga berpotensi menjaga stabilitas defisit tetap di bawah 3 persen dari PDB.
Di sisi lain, langkah efisiensi anggaran yang terus dilakukan pemerintah juga menjadi penopang. Termasuk penyesuaian pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai berkontribusi dalam menekan belanja negara.
Baca juga: Celios Nilai Dana SAL Bisa Dialokasikan untuk Jaga Defisit APBN
“Skema MBG telah dikurangi dari 6 hari seminggu ke 5 hari seminggu. Tahun lalu juga dilakukan banyak efisiensi untuk program MBG, dimana kapasitas yang digunakan lebih rendah,” sebutnya.
Menurut Pranjul, berbagai upaya efisiensi tersebut berpotensi menghasilkan penghematan APBN sekitar 1 hingga 5 persen terhadap PDB.
“Jadi, saya pikir semua itu akan membantu mencapai target 3 persen fiskal defisit di tahun ini,” tandasnya. (*) Steven Widjaja








