Poin Penting
- BTN menetapkan untuk absen membagikan dividen untuk tahun buku 2025 guna menjaga permodalan dan mendukung rencana ekspansi melalui akuisisi portofolio kredit skala besar
- Keputusan tidak membagikan dividen dipilih karena lebih efisien dibandingkan opsi pendanaan lain seperti subdebt atau additional Tier 1, yang berpotensi menambah beban bunga
- Akuisisi portofolio kredit dengan yield lebih tinggi dan NPL lebih rendah diproyeksikan menurunkan rasio kredit bermasalah di bawah 3 persen.
Jakarta — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memutuskan tidak membagikan dividen atau menetapkan dividend payout ratio sebesar 0 persen untuk tahun buku 2025. Keputusan ini diambil seiring rencana ekspansi perseroan melalui pembelian portofolio kredit dalam skala besar.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan langkah tersebut merupakan strategi untuk menjaga permodalan sekaligus mendukung rencana akuisisi portofolio yang nilainya signifikan.
“Kita tidak membayar dividen tahun ini. Karena memang modalnya dibutuhkan untuk pembelian portofolio yang nilainya melebihi 20 persen capital-nya BTN, pasti berdampak ke CAR (rasio kecukupan modal),” ujar Nixon, dalam Konferensi Pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Ia membeberkan, rencana aksi korporasi tersebut memang telah melalui proses panjang dan sempat mempertimbangkan berbagai opsi pendanaan, termasuk penerbitan surat utang subordinasi (subdebt) maupun tambahan modal inti (additional Tier 1 capital).
Baca juga: BTN Targetkan Pembiayaan 20.000 Rumah Rendah Emisi pada 2026
Namun, kata Nixon, opsi tersebut dinilai kurang efisien karena menimbulkan beban bunga tambahan. Karena itu, BTN bersama pemegang saham memilih menahan laba dengan tidak membagikan dividen.
“Jadi dengan dividen payout atau dividen payout-nya menjadi 0 persen, maka kita tidak perlu lagi nantinya menerbitkan surat utang yang dianggap sebagai Tier 1 atau Tier 2 capital. Jadi efisiensi beban,” bebernya.
Adapun portofolio yang akan diakuisisi berupa kredit, baik kredit produktif maupun konsumtif. Nixon menyebut, portofolio tersebut memiliki imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dibandingkan portofolio BTN saat ini, serta rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang lebih rendah. Dengan demikian, aksi ini diproyeksikan dapat memperbaiki kualitas aset perseroan.
Baca juga: BTN Salurkan 5,97 Juta Kredit Perumahan Rp555 Triliun, Mayoritas untuk MBR
“Sehingga dengan adanya pembelian portofolio ini, sejumlah nilai yang lebih dari 20 persen equity BTN ini akan menyebabkan NPL rasio BTN di akhir tahun turun ya, di bawah 3 persen,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Nixon, ekspansi ini diperkirakan akan mendorong pertumbuhan kredit melampaui target dalam Rencana Kerja dan Rencana Bisnis Perusahaan (RKPB). Dari sisi pendapatan, BTN juga optimistis dapat mencatatkan peningkatan, terutama dari pendapatan bunga.
“Mungkin laba kita akan melebihi RKPB, sementara laba masih bergantung pada perhitungan beban bunga,” tandasnya.
Transaksi akuisisi portofolio tersebut direncanakan berlangsung pada pertengahan Mei 2026. Namun, BTN belum mengungkapkan identitas mitra transaksi karena masih dalam tahap finalisasi. (*)
Editor: Galih Pratama








