Poin Penting
- HRTA menargetkan pendapatan Rp70 triliun dan laba bersih Rp1,4-1,5 triliun pada 2026, didukung pemulihan harga emas dan peningkatan permintaan
- Di tengah koreksi harga emas, HRTA tetap optimistis mencapai pendapatan Rp70 triliun dan laba bersih hingga Rp1,5 triliun pada 2026
- HRTA membidik laba bersih Rp1,4-1,5 triliun dan pendapatan Rp70 triliun pada 2026, dengan permintaan emas yang dinilai tetap kuat.
Jakarta – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) membidik target pendapatan Rp70 triliun dan laba bersih sekitar Rp1,4-1,5 triliun di sepanjang 2026.
Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto, mengatakan pihaknya masih optimis target pertumbuhan tersebut dapat tercapai di tengah koreksi harga emas dunia.
“Jadi kalau kita melihat ini adalah masa yang kita sebut dengan recovery pricing. Jadi era recovery ini kita melihat bahwa sebetulnya kita cukup senang dengan era recovery ini. Kenapa? Karena sebetulnya dengan era recovery pricing yang sebetulnya kita lihat tidak seperti up and down roller coaster seperti periode-periode sebelumnya. Demand itu kan sebetulnya lebih muncul lagi terutama tidak hanya untuk emas batangan tapi juga untuk perhiasan,” ucap Sandra dalam Paparan Publik di Jakarta, 3 Juni 2026.
Baca juga: Hartadinata Abadi Tebar Dividen Rp40 per Saham
Sandra, menambahkan di tengah recovery harga emas pihaknya memperhatikan harga emas dunia diperkirakan akan bergerak di sekitar level USD4.300 sampai dengan harga USD5.200 per troy ounce.
“Jadi sekarang kalau saya baca dari pagi para pengamat atau analis melihat bahwa sampai akhir 2026 harga emas itu akan berkisar antara USD4.200 sampai dengan USD5.400 per troy ounce,” imbuhnya.
Di sisi lain, Sandra mengungkapkan bahwa pihaknya juga terus mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pasalnya, harga emas di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan harga emas global (gold spot), tetapi juga sangat bergantung pada kurs rupiah.
Baca juga: BPS: Harga Emas Perhiasan Turun 3 Bulan Beruntun, Deflasi 2,67 Persen per Mei 2026
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menyentuh level Rp17.900 per dolar AS berpotensi menekan daya beli masyarakat. Meski demikian, kondisi tersebut justru mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menyimpan dana dalam bentuk emas, yang pada akhirnya turut menopang permintaan terhadap produk perseroan.
“Karena memang kalau kita lihat harga emas yang semakin tinggi mengakibatkan bahwa demand juga yang muncul yang lebih banyak didominasi oleh geramasi yang sekarang jauh lebih kecil. Tapi buat kami kita melihat bahwa harga emas yang cukup tinggi sebetulnya itu tidak terlalu mempengaruhi minat masyarakat kita terhadap kepemilikan emas,” tutup Sandra. (*)
Editor: Galih Pratama


