Poin Penting:
- Jumlah korban meninggal dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur mencapai 14 orang dengan puluhan korban luka.
- Kronologi bermula dari KRL yang tertemper kendaraan hingga akhirnya ditabrak KA Argo Bromo Anggrek.
- Pemerintah segera melakukan investigasi dan evaluasi sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
Jakarta – Tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam, mengungkap sejumlah fakta krusial, mulai dari kronologi kejadian hingga sorotan terhadap sistem keselamatan perkeretaapian.
Insiden yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengganggu operasional perjalanan kereta api secara luas.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa hingga Selasa pukul 08.45 WIB, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 14 orang. Selain itu, sebanyak 84 korban lainnya mengalami luka dan telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan di Bekasi dan sekitarnya.
“Update pukul 08.45 WIB, 14 meninggal dunia, 84 korban luka, proses penanganan masih berlangsung,” kata Bobby dalam keterangannya seperti dikutip dari Antara.
Korban meninggal dunia dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. Sementara korban luka dirawat di sejumlah rumah sakit seperti RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Baca juga: Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, KAI Tanggung Biaya Pengobatan dan Pemakaman Korban
Kronologi dan Fakta Lapangan Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Insiden kecelakaan kereta ini terjadi sekitar pukul 20.52 WIB di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920. Berdasarkan informasi KAI, peristiwa bermula ketika ada insiden taksi listrik tertemper di perlintasan kereta dekat Bulak Kapal.
Dalam laporan akun TMC Polda Metro dilaporkan kecelakaan tersebut terjadi pukul 20.50 WIB. Taksi itu berhenti di tengah-tengah lintasan kereta. KRL pun berhenti di samping taksi tersebut.
Akibat kejadian itu, ada KRL lain yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur. Namun, dalam waktu yang hampir bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek yang melintas dari arah Gambir menuju Surabaya Pasar Turi menabrak rangkaian KRL tersebut.
Benturan keras menyebabkan kerusakan parah pada gerbong, tertutama gebong khusus wanita, sehingga menyulitkan proses evakuasi. Tim SAR gabungan harus menggunakan peralatan ekstrikasi untuk mengeluarkan korban yang terjebak di dalam rangkaian kereta.
Baca juga: Kronologi Kecelakaan KA Bandara dan Truk di Poris Tangerang
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menjelaskan bahwa proses evakuasi berlangsung intensif sejak dini hari dengan perkembangan signifikan.
“Memasuki hari kedua, kami terus mengoptimalkan seluruh personel Basarnas bersama unsur SAR gabungan yang ada. Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati menggunakan peralatan ekstrikasi mengingat kondisi rangkaian kereta yang mengalami kerusakan cukup parah. Prioritas kami adalah menemukan dan mengevakuasi seluruh korban secepat mungkin,” kata Desiana.
Sejumlah korban berhasil dievakuasi dalam rentang waktu dini hari hingga pagi. Pada pukul 07.30 WIB tercatat total 92 korban, dengan rincian 85 selamat dan 7 meninggal dunia sebelum angka tersebut kemudian diperbarui menjadi 14 korban meninggal.








