Poin Penting
- Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan kebudayaan bukan beban anggaran, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi dan sumber soft power Indonesia.
- Negara maju telah menjadikan budaya bagian dari ekonomi kreatif, dan Indonesia dinilai punya peluang besar karena kekayaan budayanya.
- Indonesia memiliki “mega diversity”, dengan 1.340 kelompok etnik dan 718 bahasa sebagai modal kuat pengembangan ekonomi berbasis budaya.
Jakarta – Selama ini kebudayaan kerap ditempatkan sebagai beban anggaran atau cost center. Pandangan itu ditepis Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon.
Menurutnya, kebudayaan justru menyimpan potensi besar sebagai engine of growth ekonomi nasional, sekaligus sumber soft power Indonesia di tingkat global.
“Seringkali kebudayaan dianggap sebagai cost center, padahal budaya ini justru bisa menjadi satu engine of growth,” ujar Fadli dalam acara diskusi budaya yang diselenggarakan Infobank Media Group bertajuk Pembangunan Ekonomi Berbasis Seni dan Pelestarian Budaya di Jakarta, Kamis (22/1).
Baca juga: BI Ungkap Alasan Inflow ke RI Minim di Dua Tahun Terakhir
Ia menegaskan, banyak negara maju telah lama menjadikan budaya sebagai bagian dari cultural economy dan cultural and creative industry (CCI). Indonesia, dengan kekayaan budaya yang luar biasa, seharusnya berada di barisan depan.
Fadli memperkenalkan istilah “mega diversity” untuk menggambarkan kekayaan budaya Indonesia yang dinilainya melampaui konsep keberagaman biasa.
“Diversity saja tidak cukup menampung budaya Indonesia. Kita ini mega diversity, dari Sabang sampai Merauke, dari Myanmar sampai Pulau Rote,” tuturnya.
Baca juga: BI Pamer Sistem Pembayaran Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
Dengan 1.340 kelompok etnik dan 718 bahasa, Indonesia memiliki modal budaya yang tak tertandingi. (*) Alfi Salima Puteri










