Poin Penting
- Ekosistem baterai kendaraan listrik hasil kerja sama CATL dan Antam telah rampung dan dijadwalkan diresmikan pada akhir Juli 2026.
- Indef menilai insentif kendaraan listrik efektif meningkatkan penjualan EV, yang sebelumnya sempat tumbuh hingga 152 persen selama periode stimulus.
- Pemerintah menunda penyaluran insentif sepeda motor listrik selama satu bulan karena skema bantuan masih dalam tahap kajian.
Jakarta – Pemerintah mempercepat pengembangan baterai kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi hilirisasi industri dan penguatan ketahanan energi nasional. Langkah tersebut mengemuka dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta.
Dalam rapat yang berlangsung pada Senin (22/6) itu, pemerintah membahas dua agenda strategis, yakni pengembangan sektor pariwisata nasional serta evaluasi program hilirisasi dan ketahanan energi yang dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik hasil kolaborasi antara CATL dan Antam telah selesai. Pemerintah menargetkan proyek tersebut dapat diresmikan pada akhir Juli 2026.
Baca juga: Purbaya Tunda Insentif Kendaraan Listrik, Ini Alasannya
Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Rampung
Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Bahlil menyampaikan bahwa proyek baterai kendaraan listrik yang menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional telah memasuki tahap akhir dan siap beroperasi.
Peresmian ekosistem tersebut diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dalam negeri melalui program hilirisasi.
Pemerintah menilai penguatan hilirisasi, ketahanan energi, dan pembangunan destinasi unggulan berkelas dunia menjadi instrumen penting untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Strategi itu juga diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.
Insentif EV Dinilai Mampu Mendorong Pertumbuhan Pasar
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai insentif kendaraan listrik yang direncanakan mulai digulirkan pada Juli 2026 berpotensi efektif dalam mendorong pertumbuhan pasar otomotif nasional sekaligus mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan.
Menurut Esther, efektivitas kebijakan tersebut dapat dilihat dari pengalaman penerapan stimulus EV pada periode sebelumnya yang berhasil meningkatkan penjualan kendaraan listrik secara signifikan.
“Insentif seperti pemotongan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah/PPN DTP dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah/PPnBM terbukti sangat efektif memicu lonjakan permintaan. Pasar kendaraan listrik sempat mencatatkan pertumbuhan masif hingga 152 persen pada periode stimulus berjalan,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Riset ID Comm: Mobil Listrik Masih Jadi “Mainan” Kelas Menengah Atas
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil listrik berbasis baterai pada kuartal I 2026 mencapai 33.150 unit atau melonjak 95,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, populasi bus listrik hingga April 2026 mencapai 798 unit. Sementara populasi motor listrik pada Februari 2026 tercatat sebanyak 236.451 unit atau sekitar 65 persen dari total populasi kendaraan listrik nasional.
Esther menilai capaian tersebut membuktikan bahwa kebijakan fiskal yang tepat dapat mempercepat transisi masyarakat menuju kendaraan berbasis teknologi hijau sekaligus memperkuat industri otomotif nasional.
Tantangan TKDN dan Penundaan Insentif Motor Listrik
Meski memberikan manfaat bagi lingkungan, Esther mengingatkan bahwa dampak pengurangan emisi karbon dari penggunaan kendaraan listrik masih bergantung pada sumber energi yang digunakan untuk pengisian daya.
“Adopsi EV baru memberikan dampak positif pada penurunan emisi karbon di area perkotaan, termasuk wilayah operasional seperti Semarang. Namun, efektivitas ini masih sangat bergantung pada sumber energi pembangkit listrik yang menyuplai pengisian daya (charging),” katanya.
Menurut dia, pemerintah juga perlu mendorong industri EV memenuhi target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40 persen agar manfaat ekonomi dari pertumbuhan industri kendaraan listrik lebih banyak dinikmati sektor manufaktur nasional.
Baca juga: Perusahaan Otomotif Jepang Pindah dari Jatim ke Vietnam, Ribuan Buruh Terancam PHK
Sementara itu, pemerintah tengah menyiapkan insentif kendaraan listrik yang ditargetkan mencakup masing-masing 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit sepeda motor listrik pada tahun ini. Untuk motor listrik, nilai insentif diperkirakan mencapai Rp5 juta per unit, meski besaran finalnya masih menunggu keputusan pemerintah.
Kebijakan tersebut juga ditujukan untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) di tengah proyeksi harga minyak global yang masih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, implementasi insentif pembelian sepeda motor listrik diputuskan mundur selama satu bulan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan penundaan dilakukan karena skema bantuan masih dalam tahap pengkajian.
“Insentif sepeda motor listrik kemarin dikaji lagi, tambahan satu bulan,” kata Airlangga di Jakarta, Senin (22/6).
Dengan rampungnya ekosistem baterai kendaraan listrik dan rencana pemberian insentif baru, pemerintah berharap percepatan adopsi kendaraan listrik dapat berjalan lebih optimal sekaligus memperkuat industri nasional berbasis energi bersih. (*)
Editor: Yulian Saputra


